Rabu, 08 Oktober 2014

SITUASI UPAYA KESEHATAN

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derjat kesehatan masyarakat, telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan. Berikut ini diruaikan gambaran situasi upaya kesehatan khususnya pada tahun 2013

A.    PELAYANAN KESEHATAN DASAR

Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat sudah dapat diatasi.
Pelayanan kesehatan dasar di puskesmas Glagah Kabupaten Lamongan pada tahun 2013 dilaksanakan secara gratis, pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut :

1.      Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi
Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Ganguan kesehatan yang dialami ibu yang sedang hamil bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya.

a.      Pelayanan Antenatal ( K4 )
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan professional ( dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang mengikuti program pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K4.
Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil  yang telah melakukan kunjungan pertama ke faslitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil  yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil.
Gambaran persentase cakupan pelayanan K4 di Kec. glagah pada tahun 2013 sebesar 557 ( 91,9 %) dari seluruh ibu hamil sebanyak 606  orang. ( Tabel 28 )
b.      Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan
Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (professional).
Hasil pengumpulan data / indikator kinerja SPM bidang kesehatan di Kec. glagah pada tahun 2013 menunjukkan bahwa prosentase cakupan persalinan dengan pertolongan oleh tenaga kesehatan sebesar 543  ( 95,6 % ). Dari jumlah ibu bersalin sebanyak 606. Dari 29 desa yang ada. ( Tabel 28 )
c.       Ibu Hamil Resiko Tinggi yang Dirujuk
Dalam memberikan  pelayanan kesehatan khususnya oleh bidan di desa dan puskesmas, beberapa ibu hamil di antaranya tergolong dalam kasus resiko tinggi (risti), maka kasus tersebut memerlukan pelayanan kesehatan rujukan ke unit kesehatan yang memadai.
Jumlah ibu hamil risti di kecamatan glagah tahun 2013 sebesar 121, dan risti di tangani 121 (100 %).  (Tabel 31)

Gambar : 4.1   JUMLAH IBU HAMIL, K4, PERSALINAN NAKES, IBU
HAMIL RISTI DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013


d.      Kunjungan Neonatus
Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan umur yang paling rentan atau memiliki resiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal 2 kali, satu kali pada 0-7 hari dan satu kali pada umur 8-28 hari. Dalam melaksanakan pelayanan neonatus, petugas kesehatan disamping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu.
Bila dilihat menurut puskesmas di Kecamatan Glagah pada tahun 2013, dengan cakupan kunjungan neonatus tertinggi adalah desa mendogo dengan cakupan KN.1 mencapai 30 sedangkan cakupan kunjungan neonatus terendah adalah desa bangkok dengan  cakupan KN1 hanya mencapai 7. Adapun cakupan KN1 di Kec. glagah pada Tahun 2013 sebesar 561 yaitu 100, % dari jumlah neonatus yang ada yaitu 561. ( Tabel 36 )
e.       Kunjungan Bayi
Hasil pengumpulan data / indikator kinerja SPM bidang kesehatan menunjukkan cakupan kunjungan bayi di Kec glagah pada tahun 2013 mencapai 561 (100. %). Namun data ini belum mencakup semua kunjungan bayi yang tercatat di sarana pelayanan kesehatan swasta ( tabel 37 )

Gambar : 4.2   JUMLAH BAYI, KUNJUNGAN BAYI DAN KN1 DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

2.      Pelayanan Kesehatan Anak Prasekolah, Usia Sekolah dan Remaja
Pelayanan kesehatan pada kelompok anak pra sekolah, usia sekolah dan remaja dilakukan dengan pelaksanaan pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak pra sekolah, pemeriksaan anak sekolah dasar /sederajat, serta pelayanan kesehatan pada remaja, baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta tenaga terlatih lainnya seperti kader kesehatan, guru UKS dan dokter kecil.
Dari hasil laporan yang terkumpul menunjukkan bahwa cakupan deteksi tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah sebesar 2.141. Dalam pelayanan kesehatan kelompok balita dan anak pra sekolah selama tahun 2013, puskesmas dengan cakupan tertinggi adalah desa margoanyar dan Dukuh Tunggal ( 93 Balita ), cakupan terendah  desa Meluntur (21), (Tabel 43)
Untuk pelayanan kesehatan kelompok anak Sekolah Dasar/MI, dengan jumlah murid 575, cakupan tertinggi di capai desa Glagah sebanyak 57 anak. sedang cakupan  terendah dicapai  desaduduk lor sebanyak 4 anak ( tabel 47 )
Sedangkan pelayanan kesehatan untuk kelompok usia Usia lanjut, cakupan tertinggi dicapai desa glagah 223 dan cakupan terendah dicapai desa meluntur 52. ( Tabel 48 )
Gambar : 4.3   JUMLAH ANAK BALITA & PRA SEKOLAH, SD/MI, USILA DI KECAMATAN GLAGAH TAHUN 2013


3.      Pelayanan Keluarga Berencana
Jumlah pasangan usia subur (PUS) pada tahun 2013 sebanyak 6062, sedangkan yang menjadi peserta KB aktif sebesar 4460 ( 73,06 %), dengan cakupan tertinggi Desa Karangturi yaitu sebesar 225 (100%) dan cakupan terendah Desa Konang yaitu 40 (37%) (Tabel 35 ).





GAMBAR 4.4   JENIS ALAT KONTRASEPSI YANG DIGUNAKAN  TAHUN 2013

 

4.      Pelayanan Imunisasi
Pencapaian universal child immunization pada dasarnya merupakan suatu gambaran terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Bila UCI dikaitkan dengan batasan wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat terhadap penularan PD3I.
Pada tahun 2013 dilaporkan puskesmas Glagah  yang telah mencapai desa/keluaran UCI sebesar 29 ( 100 %)  dari 29 desa / kelurahan yang ada. Dari 29 Desa yang ada di Kec Glagah, telah mencapai UCI  100 %  (Tabel 38)
Pelayanan imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG, DPT ( 3 kali ), Polio ( 4 kali ), Hepatitis B ( 3 kali ) dan Campak ( 1 kali ), yang dilakukan melalui pelayanan rutin di posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainya. Cakupan imunisasi BCG sebesar 550 ( 98%), POLIO3 sebesar 583 (103%), DPT 1 dan HB 1 sebesar 613 (119,4 %), DPT3 dan HB 3 sebesar 570 ( 101,06 % ),  Campak sebesar  606 ( 108, % )  ( Tabel 39 )

Gambar : 4.5   IMUNISASI BAYI  DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013


Untuk cakupan imunisasi TT wanita usia subur  pada tahun 2013, TT1 sebesar 0 ( 0 % ), TT2 sebesar 0 ( 0 % ), TT3  sebesar 0 (  0 % ), TT4 sebesar 6 ( 1. % ) dan TT5 sebesar 6 ( 1. % ) (Tabel 29)
Upaya meningkatkan kekebalan pada masyarakat juga dilakukan pada kelompok-kelompok sasaran khusus lainnya, misalnya pemberian imunisasi DT dan TT pada anak sekolah melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) atau pelaksanaan Crash Program imunisasi Campak pada anak Balita di lokasi pengungsian atau Catch Up Campaign imunisasi campak pada anak sekolah kelas 1 sampai VI SD.




Gambar : 4.6  IMUNISASI WANITA USIA SUBUR DI PUSKESMAS GLAGAH  TAHUN        2013


5.      Pelayanan Kesehatan Usia lanjut
Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut pada tahun 2013 di Kec. glagah sebesar 15.526 ( 49.38 % ) dari seluruh jumlah usila yang dilaporkan sebanyak 4028,  (Tabel 48)

B.     PEMANFAATAN OBAT GENERIK
Hasil pengumpulan data pelayanan penggunaan obat generik, penulisan resep obat generik di Puskesmas menunjukkan bahwa data yang berhasil dikumpulkan, jumlah resep yang dilaporkan sebesar 3756. Dan penulisan resep obat generik dilaporkan sebesar 3500 ( 93 %)
Rendahnya cakupan resep obat generik ini bisa jadi disebabkan karena beberapa hal seperti masih terbatasnya item obat generik yang tersedia, masih kuatnya persepsi bahwa obat paten lebih ampuh dibanding obat generik.

C.    PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR

Upaya pemberantasan penyakit menular lebih ditekankan pada pelaksanaan surveilans epidemiologi dengan upaya penemuan penderita secara dini yang ditindaklanjuti dengan penanganan secara cepat melalui pengobatan penderita. Di samping itu pelayanan lain yang diberikan adalah upaya pencegahan dengan pemberian imunisasi, upaya pengurangan faktor risiko melalui kegiatan untuk peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit menular yang dilaksanakan melalui berbagai kegiatan.

1. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa
Upaya penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan tindak lanjut dari penemuan dini kasus-kasus penyakit berpotensi wabah yang terjadi pada masyarakat. Upaya penanggulangan yang dilakukan dimaksudkan untuk mencegah penyebaran lebih luas dan mengurangi dampak negatif yang dapat ditimbulkan.
Berdasarkan hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM selama tahun 2013 jumlah desa/kelurahan yang melaporkan terkena KLB dan yang mendapatkan  penanganan kurang dari 24 jam adalah NIHIL
Sedangkan KLB di Puskesmas Glagah tidak ada  (Tabel 50)

Gambar : 4.8   JUMLAH PENDERITA KLB YANG TERJADI DI PUSKESMAS  TAHUN 2013


2.  Pemberantasan Penyakit Polio
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Polio telah dilakukan melalui gerakan imunisasi Polio. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) kelompok umur <15 tahun hingga dalam kurun waktu tertentu, untuk mencari kemungkinan adanya virus Polio liar yang berkembang di masyarakat dengan pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai. Berdasarkan kegiatan surveilans AFP pada penduduk umur <15 tahun selama tahun 2013 Tidak ada penderita.
Sementara itu, cakupan imunisasi Polio-3 pada bayi pada tahun 2013 sebesar 583. desa dengan cakupan tertinggi adalah desa soko dan Jatirenggo 30, sedangkan yang terendah adalah desa Bangkok dan Meluntur 11. ( Tabel 40 )

3. Pemberantasan TB-Paru
Upaya Pencegahan dan pemberantasan TB-Paru dilakukan dengan pendekatan DOTS (Directly Observe Treatment Shortcource) atau pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Kegiatan ini meliputi upaya penemuan penderita dengan pemeriksaan dahak di sarana pelayanan kesehatan yang ditindaklanjuti dengan paket pengobatan.
Jumlah penderita Tb paru pada tahun 2013 sebanyak 21 orang, sedangkan yang diobati banyak 21 dan yang sembuh sebanyak 20 oranag (95,24 %)   (Tabel 12)

4. Pemberantasan Penyakit ISPA
Upaya dalam rangka Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2 ISPA) lebih difokuskan pada upaya penemuan secara dini dan tata laksana kasus yang cepat dan tepat terhadap penderita Pneumonia balita yang ditemukan. Upaya ini dikembangkan melalui suatu manajemen terpadu dalam penanganan balita sakit yang datang ke unit pelayanan kesehatan atau lebih dikenal dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Dengan pendekatan MTBS semua penderita ISPA langsung ditangani di unit yang menemukan, namun bila kondisi balita sudah berada dalam Pneumonia berat sedangkan peralatan tidak mencukupi maka penderita langsung dirujuk ke fasilitas pelayanan yang lebih lengkap.

5. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS
Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS, disamping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya pencegahan melalui penemuan penderita secara dini yang dilanjutkan dengan kegiatan konseling.
Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap darah donor, pemantauan pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Wanita Penjaja Seks (WPS), penyalahguna obat dengan suntikan (IDUs), penghuni Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan penelitian pada kelompok berisiko rendah  seperti ibu rumah tangga dan sebagainya.
Walaupun jumlah penderita AIDS secara kumulatif relatif kecil  (Case Rate 1,33 per 100.000 penduduk), namun dalam perjalanan penyakit dari HIV + menjadi AIDS  dikenal istilah ”windows periods” yang tidak diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga kelompok ini menjadi sangat potensial dalam menularkan penyakit. Pada kelompok ini disamping dilakukan pengobatan yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya penularan lebih lanjut.  
dari hasil pemantauan dan pemeriksaan pada tahun 2013 dijumpai  1 penderita HIV/AIDS. ( Tabel 14 )
           
6.  Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Upaya pemberantasan DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3 M+), Juru Pemantauan Jentik (Jumantik) untuk memantau Angka Bebas Jentik (ABJ), serta pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga.
Pada tahun 2013 dari 29 desa di Puskesmas Glagah  tidak ada kasus DBD/ tanpa ada penderita.( tabel 23 )
Upaya kesehatan yang telah dilakukan dalam rangka penanggulangan DBD selama tahun 2013 tersebut antara lain adalah penemuan penderita secara dini melalui sistem surveilans, penegakan diagnosa secara cepat dengan didukung oleh pemeriksaan laboratorium dan penanganan penderita secara tepat, serta gerakan pemantauan dan pengendalian vektor melalui gerakan 3 M.  

7.  Pemberantasan Penyakit Malaria
Penegakan diagnosa penderita secara cepat dan pengobatan yang tepat merupakan salah satu upaya penting dalam rangka pemberantasan penyakit Malaria. Di Kabupaten Lamongan pada tahun 2013 tidak ditemukan penderita penyakit malaria.( Tabel 24 )

8. Pemberantasan Penyakit Kusta
Upaya pelayanan terhadap penderita penyakit Kusta antara lain adalah melakukan penemuan penderita melalui berbagai survei anak sekolah, survei kontak dan  pemeriksaan intensif penderita yang datang ke pelayanan kesehatan dengan keluhan atau kontak dengan penderita penyakit Kusta. 
Semua penderita yang ditemukan langsung diberikan pengobatan paket MDT yang terdiri atas Rifampicin, Lampren, dan DDS selama kurun waktu tertentu. Sedangkan untuk penderita yang ditemukan sudah dalam kondisi parah akan dilakukan rehabilitasi melalui institusi pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas pelayanan lebih lengkap.
Pada tahun 2013 ditemukan penderita kusta tipe PB 0 orang dan tipe MB sebanyak 3,  dan tipe RFT PB 0 orang dan RFT MB sebanyak 1 (100 %).(tabel 19 dan 20 )

9. Pemberantasan Penyakit Filaria
Upaya kesehatan dalam rangka pemberantasan penyakit Filaria difokuskan pada kegiatan penemuan penderita, pengobatan dan pengendalian vektor potensial di wilayah-wilayah endemis. Di puskesmas Kecamatan glagah tidak ada penyakit tersebut ( tabel 25 )

D.    PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR

Untuk memperkecil resiko terjadinya penyakit kusta atau gangguan kesehatan sebagai akibat dari lingkungan yang kurang sehat, dilakukan berbagai upaya peningkatan kualitas lingkungan, antara lain dengan pembinaan kesehatan lingkungan pada institusi yang dilakukan secara berkala. Upaya yang dilakukan mencakup pemantauan dan pemberian rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas sanitasi dasar.
Hasil kompilasi data menunjukan bahwa pada tahun 2013 dari institusi yang dilaporkan 235, yang dibina kesehatan lingkungannya sebanyak 140 (59,6%). Tabel 68
Dari jumlah institusi tersebut diatas terdistribusi pada sarana kesehatan 30 dan yang dibina 30 (100 %), sarana pendidikan 64 dan yang dibina 64 (100 %), sarana ibadah 87 dan yang dibina 0 (0 %) dan institusi perkantoran 38 dan yang dibina 30 (78,9 %). ( tabel 68 )

1. Pembinaan Kesehatan Lingkungan
Upaya pembinaan kesehatan lingkungan diarahkan pada masyarakat dan institusi yang memiliki potensi mengancam kesehatan masyarakat yang dilakukan secara berkala. Kegiatan pembinaan dimaksud mencakup upaya pemantauan, penyuluhan dan pemberian rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas sanitasi dasar (air bersih dan jamban), pengelolaan sampah, sirkulasi udara, pencahayaan, dan lain-lain.
Dari KK yang diperiksa pada tahun 2013 sebanyak 8718 terdapat KK yang mempunyai persediaan air bersih 5241 ( 73,7 %) ( Tabel 64 dan 65 )

Gambar  : 4.9      JUMLAH PEMAKAI SARANA AIR BERSIH DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

Dan terdapat jamban yang memenuhi syarat 5173 ( 76,5 %), tempat sampah yang memenuhi syarat 2685 (60,1 %) dan terdapat pengolahan air limbah keluarga yang memenuhi syarat 1931 (35,7% ) ( table 66 ) .

Gambar : 4.10  SYARAT DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013 KELUARGA YANG MEMPUNYAI  JAMBAN, TEMPAT SAMPAH DAN AIR LIMBAH MEMENUHI SYARAT KESEHATAN



2. Surveilans Vektor
Upaya surveilans vektor dilakukan untuk mengendalikan vektor potensial dalam menularkan penyakit antara lain nyamuk. Kegiatan yang dilakukan meliputi survei vektor untuk mengetahui jenis potensial, bionomik serta strategi pengendaliannya.
 Pada tahun 2013 jumlah rumah/bangunan yang diperiksa sebanyak 2750 (41.99%) dan yang dinyatakan bebas jentik sebanyak 2636 (95,85 %). ( Tabel 63 )

3.  Pengawasan Tempat-tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan
Pengawasan terhadap Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan Makanan (TUPM) dilakukan untuk meminimalkan faktor risiko sumber penularan bagi masyarakat yang memanfaatkan TTU dan TUPM.  Bentuk kegiatan yang dilakukan antara lain meliputi pengawasan kualitas lingkungan TTU dan TUPM secara berkala, bimbingan, penyuluhan dan saran perbaikan dalam pengelolaan lingkungan yang sehat, hingga pemberian  rekomendasi untuk penerbitan izin usaha.
Menurut data Profil Kesehatan tahun 2013, dari 106 TUPM yang ada dan yang diperiksa sebanyak  70  TUPM dan  memenuhi syarat kesehatan 27 TUPM 27 ( 38,57% ) (tabel 67)




Gambar : 4.11   JUMLAH  TUPM, TTU DI PUSKESMAS GLAGAH  TAHUN 2013


E.     PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
Upaya perbaikan gizi masyarakat pada hakekatnya dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Beberapa permasalahan gizi sering dijumpai pada kelompok masyarakat adalah kekurangan kalori protein, kekurangan vitamin A, gangguan akibat kekurangan yodium dan anemia gizi besi.

1.      Pemantauan Pertumbuhan Balita
Upaya pemantauan terhadap pertumbuhan balita dilakukan melalui kegiatan penimbangan di posyandu secara rutin setiap bulan. Hasil dari pengumpulan data  di  puskesmas, jumlah balita yang ada sebanyak 3.041 balita yang ditimbang sebanyak 2.658, dengan hasil penimbangan jumlah balita dengan berat badan naik sebanyak 1.848 (69,5 %). Sementara itu balita dengan bawah garis merah (BGM) sebesar 68 (2.6 %).(Tabel 44)
2.      Pemberian kapsul Vitamin A
Cakupan pemberian kapsul  vitamin A  2 kali pada balita pada tahun 2013 hasil kompilasi pada seluruh DESA sebanyak 2.607 (85,7 %) anak dari jumlah anak balita sebanyak 3.041 anak. (Tabel 32 )

3.      Pemberian Tablet Besi
Pada tahun 2013 jumlah ibu hamil yang ada sebesar 606 orang dan yang mendapatkan pemberian tablet besi (Fe1) 568 (93,73 %) dan Fe3 sebesar 510 ( 84,16 % ) bumil.  ( Tabel 30 )

Gambar : 4.12  JUMLAH BAYI, BAYI BGM, JUMLAH BALITA, BALITA BGM TABEL 26 DAN 44


F. PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
Upaya pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara paripurna. Upaya tersebut dimaksudkan untuk (1) menjamin ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan obat generik dan obat esensial yang bermutu bagi masyarakat, (2) mempromosikan penggunaan obat yang rasional dan obat generik, (3) meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di farmasi komunitas dan farmasi klinik serta pelayanan kesehatan dasar, serta (4) melindungi masyarakat dari penggunaan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan, mutu, dan keamanan.

1. Peningkatan Penggunaan Obat Rasional
Upaya peningkatan penggunaan obat rasional, diarahkan kepada peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan pembinaan penggunaan obat yang rasional melalui pelaksanaan advokasi secara lebih intensif agar terwujud dukungan masyarakat yang kondusif serta terbangunnya kemitraan dengan unit pelayanan kesehatan formal. Sampai dengan akhir tahun 2013, penggunaan obat rasional mencapai 82,12 %. Angka tersebut belum menunjukkan target yang hendak dicapai yang idealnya penggunaan obat yang rasional mencapai 100%. Berkaitan dengan hal tersebut perlu terus diupayakan meningkatan obat esensial nasional di setiap fasilitas kesehatan masyarakat dan melindungi masyarakat dari risiko pengobatan irasional.

2.  Penerapan Penggunaan Obat Esensial Generik

Kegiatan ini dimaksudkan agar terjaminnya ketersediaan, keterjangkauan, dan pemerataan obat dalam pelayanan kesehatan, yang pelaksanaannya mencakup pengadaan buffer stock obat generik esensial, revitalisasi pemasyarakatan konsepsi obat esensial dan penerapan penggunaan obat esensial generik pada fasilitas pelayanan pemerintah. Pada tahun 2013 ketersediaan obat esensial sudah mencapai 86,47 %.

1 komentar:

  1. terimakasih untuk artikelnya, silahkan kunjungi website kami
    http://mitoha-goldengamat.com/

    BalasHapus