Dalam rangka mencapai tujuan
pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derjat kesehatan masyarakat, telah
dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan. Berikut ini diruaikan gambaran situasi
upaya kesehatan khususnya pada tahun 2013
A.
PELAYANAN KESEHATAN DASAR
Upaya pelayanan kesehatan dasar
merupakan langkah awal yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan
pada masyarakat. Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan
tepat, diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat sudah dapat
diatasi.
Pelayanan kesehatan dasar di puskesmas Glagah Kabupaten
Lamongan pada tahun 2013 dilaksanakan secara gratis, pelayanan kesehatan
adalah sebagai berikut :
1. Pelayanan
Kesehatan Ibu dan Bayi
Seorang ibu mempunyai peran yang
sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Ganguan kesehatan
yang dialami ibu yang sedang hamil bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam
kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya.
a.
Pelayanan Antenatal ( K4 )
Pelayanan antenatal merupakan
pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan professional ( dokter spesialis
kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil
selama masa kehamilannya, yang mengikuti program pedoman pelayanan antenatal
yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil
pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K4.
Cakupan K1 atau juga disebut akses
pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke faslitas
pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 adalah
gambaran besaran ibu hamil yang telah
mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit
empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali
pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga. Angka ini dapat
dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil.
Gambaran persentase cakupan pelayanan
K4 di Kec. glagah pada tahun 2013 sebesar 557 ( 91,9 %) dari seluruh ibu hamil
sebanyak 606 orang. ( Tabel 28 )
b.
Pertolongan Persalinan Oleh
Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan
Komplikasi dan kematian ibu
maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar
persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (professional).
Hasil pengumpulan data / indikator
kinerja SPM bidang kesehatan di Kec. glagah pada tahun 2013 menunjukkan bahwa prosentase cakupan persalinan dengan pertolongan
oleh tenaga kesehatan sebesar 543 ( 95,6 % ). Dari jumlah ibu bersalin sebanyak 606. Dari 29 desa yang ada. ( Tabel 28 )
c.
Ibu Hamil Resiko Tinggi yang Dirujuk
Dalam memberikan pelayanan kesehatan khususnya oleh bidan di
desa dan puskesmas, beberapa ibu hamil di antaranya tergolong dalam kasus
resiko tinggi (risti), maka kasus tersebut memerlukan pelayanan kesehatan
rujukan ke unit kesehatan yang memadai.
Jumlah ibu hamil
risti di kecamatan glagah tahun 2013 sebesar 121, dan risti di tangani 121 (100 %). (Tabel 31)
Gambar : 4.1 JUMLAH IBU HAMIL,
K4, PERSALINAN NAKES, IBU
HAMIL RISTI DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

d.
Kunjungan Neonatus
Bayi hingga usia kurang dari satu
bulan merupakan golongan umur yang paling rentan atau memiliki resiko gangguan
kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko
tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal 2 kali,
satu kali pada 0-7 hari dan satu kali pada umur 8-28 hari. Dalam melaksanakan
pelayanan neonatus, petugas kesehatan disamping melakukan pemeriksaan kesehatan
bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu.
Bila dilihat menurut puskesmas di
Kecamatan Glagah pada tahun 2013, dengan cakupan kunjungan
neonatus tertinggi adalah desa mendogo dengan cakupan KN.1 mencapai 30 sedangkan cakupan kunjungan
neonatus terendah adalah desa bangkok dengan cakupan KN1 hanya mencapai 7. Adapun cakupan KN1 di Kec. glagah pada Tahun 2013 sebesar 561 yaitu 100, % dari jumlah
neonatus yang ada yaitu 561. ( Tabel 36 )
e.
Kunjungan Bayi
Hasil
pengumpulan data / indikator kinerja SPM bidang kesehatan menunjukkan cakupan
kunjungan bayi di Kec glagah pada tahun 2013 mencapai 561 (100. %). Namun data ini belum mencakup
semua kunjungan bayi yang tercatat di sarana pelayanan kesehatan swasta ( tabel 37 )
Gambar : 4.2 JUMLAH BAYI, KUNJUNGAN BAYI DAN KN1 DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

2. Pelayanan
Kesehatan Anak Prasekolah, Usia Sekolah dan Remaja
Pelayanan kesehatan pada kelompok
anak pra sekolah, usia sekolah dan remaja dilakukan dengan pelaksanaan
pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak pra
sekolah, pemeriksaan anak sekolah dasar /sederajat, serta pelayanan kesehatan
pada remaja, baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta
tenaga terlatih lainnya seperti kader kesehatan, guru UKS dan dokter kecil.
Dari hasil
laporan yang terkumpul menunjukkan bahwa cakupan deteksi tumbuh kembang anak
balita dan pra sekolah sebesar 2.141. Dalam
pelayanan kesehatan kelompok balita dan anak pra sekolah selama tahun 2013, puskesmas dengan cakupan tertinggi
adalah desa margoanyar
dan Dukuh Tunggal ( 93 Balita ), cakupan terendah desa Meluntur (21),
(Tabel 43)
Untuk pelayanan
kesehatan kelompok anak Sekolah Dasar/MI, dengan jumlah murid 575, cakupan tertinggi di capai desa Glagah sebanyak
57 anak. sedang
cakupan terendah dicapai desaduduk lor sebanyak 4 anak ( tabel 47 )
Sedangkan pelayanan kesehatan untuk kelompok usia Usia lanjut, cakupan tertinggi dicapai desa
glagah 223 dan cakupan terendah dicapai desa
meluntur 52. ( Tabel 48 )
Gambar : 4.3 JUMLAH ANAK BALITA & PRA SEKOLAH, SD/MI,
USILA DI KECAMATAN GLAGAH TAHUN
2013

3. Pelayanan
Keluarga Berencana
Jumlah pasangan usia subur (PUS)
pada tahun 2013 sebanyak 6062,
sedangkan yang menjadi peserta KB aktif sebesar 4460 ( 73,06 %), dengan cakupan tertinggi Desa Karangturi yaitu sebesar 225 (100%) dan cakupan terendah Desa Konang yaitu
40 (37%) (Tabel 35 ).
GAMBAR 4.4 JENIS ALAT KONTRASEPSI YANG DIGUNAKAN TAHUN 2013
4. Pelayanan
Imunisasi
Pencapaian universal child
immunization pada dasarnya merupakan suatu gambaran terhadap cakupan sasaran
bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Bila UCI dikaitkan dengan
batasan wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan
besarnya tingkat kekebalan masyarakat terhadap penularan PD3I.
Pada tahun 2013 dilaporkan puskesmas Glagah yang telah mencapai desa/keluaran UCI sebesar 29
( 100 %) dari 29 desa / kelurahan yang ada.
Dari 29 Desa yang ada di Kec Glagah, telah mencapai UCI 100 % (Tabel 38)
Pelayanan
imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG, DPT ( 3 kali ), Polio ( 4 kali ),
Hepatitis B ( 3 kali ) dan Campak ( 1 kali ), yang dilakukan melalui pelayanan
rutin di posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainya. Cakupan imunisasi BCG
sebesar 550 ( 98%), POLIO3 sebesar 583 (103%), DPT 1 dan HB 1 sebesar 613 (119,4 %), DPT3 dan HB 3
sebesar 570 ( 101,06 % ), Campak sebesar 606 ( 108, % ) ( Tabel 39 )
Gambar : 4.5 IMUNISASI BAYI DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

Untuk cakupan
imunisasi TT wanita usia subur pada
tahun 2013, TT1 sebesar 0 ( 0 % ), TT2
sebesar 0 ( 0 % ), TT3 sebesar 0 ( 0 % ), TT4 sebesar 6 ( 1. % ) dan TT5 sebesar 6 ( 1. % ) (Tabel 29)
Upaya meningkatkan kekebalan
pada masyarakat juga dilakukan pada kelompok-kelompok sasaran khusus lainnya,
misalnya pemberian imunisasi DT dan TT pada anak sekolah melalui program Bulan
Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) atau pelaksanaan Crash Program imunisasi Campak pada anak Balita di lokasi
pengungsian atau Catch Up Campaign
imunisasi campak pada anak sekolah kelas 1 sampai VI SD.
Gambar : 4.6 IMUNISASI WANITA USIA SUBUR DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

5.
Pelayanan Kesehatan Usia
lanjut
Cakupan
pelayanan kesehatan usia
lanjut pada tahun 2013 di Kec. glagah sebesar 15.526 ( 49.38 % ) dari seluruh jumlah usila
yang dilaporkan sebanyak 4028, (Tabel 48)
B. PEMANFAATAN OBAT GENERIK
Hasil pengumpulan data pelayanan penggunaan obat generik, penulisan resep
obat generik di Puskesmas menunjukkan bahwa data yang berhasil dikumpulkan,
jumlah resep yang dilaporkan sebesar 3756. Dan penulisan resep obat generik
dilaporkan sebesar 3500 ( 93 %)
Rendahnya cakupan resep obat generik ini bisa jadi disebabkan karena
beberapa hal seperti masih terbatasnya item obat generik yang tersedia, masih
kuatnya persepsi bahwa obat paten lebih ampuh dibanding obat generik.
C.
PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR
Upaya pemberantasan penyakit menular lebih
ditekankan pada pelaksanaan surveilans epidemiologi dengan upaya penemuan
penderita secara dini yang ditindaklanjuti dengan penanganan secara cepat
melalui pengobatan penderita. Di samping itu pelayanan lain yang diberikan
adalah upaya pencegahan dengan pemberian imunisasi, upaya pengurangan faktor
risiko melalui kegiatan untuk peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan
peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit menular yang
dilaksanakan melalui berbagai kegiatan.
1. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan
Kejadian Luar Biasa
Upaya
penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)
merupakan tindak lanjut dari penemuan dini kasus-kasus penyakit berpotensi
wabah yang terjadi pada masyarakat. Upaya penanggulangan yang dilakukan
dimaksudkan untuk mencegah penyebaran lebih luas dan mengurangi dampak negatif
yang dapat ditimbulkan.
Berdasarkan
hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM selama tahun 2013 jumlah desa/kelurahan yang melaporkan
terkena KLB dan yang mendapatkan penanganan kurang dari 24 jam adalah NIHIL
Sedangkan KLB di Puskesmas Glagah tidak
ada (Tabel 50)
Gambar : 4.8 JUMLAH PENDERITA KLB YANG TERJADI DI PUSKESMAS
TAHUN 2013

2. Pemberantasan Penyakit Polio
Upaya pencegahan dan pemberantasan
penyakit Polio telah dilakukan melalui gerakan imunisasi Polio. Upaya ini juga
ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap
kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis
(AFP) kelompok umur <15 tahun hingga dalam kurun waktu tertentu, untuk
mencari kemungkinan adanya virus Polio liar yang berkembang di masyarakat
dengan pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai. Berdasarkan kegiatan
surveilans AFP pada penduduk umur <15 tahun selama tahun 2013 Tidak ada penderita.
Sementara
itu, cakupan imunisasi Polio-3 pada bayi pada tahun 2013 sebesar 583. desa dengan cakupan tertinggi
adalah desa soko dan Jatirenggo 30, sedangkan yang terendah adalah desa Bangkok dan Meluntur 11. ( Tabel 40 )
3. Pemberantasan TB-Paru
Upaya
Pencegahan dan pemberantasan TB-Paru dilakukan dengan pendekatan DOTS (Directly Observe Treatment Shortcource)
atau pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat
(PMO). Kegiatan ini meliputi upaya penemuan penderita dengan pemeriksaan dahak
di sarana pelayanan kesehatan yang ditindaklanjuti dengan paket pengobatan.
Jumlah penderita
Tb paru pada tahun 2013 sebanyak 21 orang, sedangkan yang diobati banyak 21 dan yang sembuh sebanyak 20 oranag (95,24 %) (Tabel 12)
4. Pemberantasan Penyakit ISPA
Upaya dalam
rangka Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2 ISPA) lebih
difokuskan pada upaya penemuan secara dini dan tata laksana kasus yang cepat
dan tepat terhadap penderita Pneumonia balita yang ditemukan. Upaya ini
dikembangkan melalui suatu manajemen terpadu dalam penanganan balita sakit yang
datang ke unit pelayanan kesehatan atau lebih dikenal dengan Manajemen Terpadu
Balita Sakit (MTBS). Dengan pendekatan MTBS semua penderita ISPA langsung
ditangani di unit yang menemukan, namun bila kondisi balita sudah berada dalam
Pneumonia berat sedangkan peralatan tidak mencukupi maka penderita langsung
dirujuk ke fasilitas pelayanan yang lebih lengkap.
5. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS
Upaya pelayanan
kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS, disamping ditujukan
pada penanganan penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya pencegahan
melalui penemuan penderita secara dini yang dilanjutkan dengan kegiatan
konseling.
Upaya penemuan
penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap darah donor, pemantauan
pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Wanita
Penjaja Seks (WPS), penyalahguna obat dengan suntikan (IDUs), penghuni Lapas
(Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan penelitian pada kelompok
berisiko rendah seperti ibu rumah tangga
dan sebagainya.
Walaupun jumlah
penderita AIDS secara kumulatif relatif kecil
(Case Rate 1,33 per 100.000
penduduk), namun dalam perjalanan penyakit dari HIV + menjadi AIDS dikenal istilah ”windows periods” yang tidak
diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga kelompok ini menjadi sangat
potensial dalam menularkan penyakit. Pada kelompok ini disamping dilakukan
pengobatan yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk menumbuhkan rasa
tanggung jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya penularan lebih
lanjut.
dari hasil
pemantauan dan pemeriksaan pada tahun 2013 dijumpai 1 penderita HIV/AIDS. ( Tabel 14 )
6. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD)
Upaya
pemberantasan DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat
berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3 M+), Juru
Pemantauan Jentik (Jumantik) untuk memantau Angka Bebas Jentik (ABJ), serta
pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga.
Pada tahun 2013 dari 29 desa di Puskesmas Glagah tidak ada kasus DBD/ tanpa ada penderita.( tabel 23 )
Upaya kesehatan
yang telah dilakukan dalam rangka penanggulangan DBD selama tahun 2013 tersebut antara lain adalah penemuan
penderita secara dini melalui sistem surveilans, penegakan diagnosa secara cepat
dengan didukung oleh pemeriksaan laboratorium dan penanganan penderita secara
tepat, serta gerakan pemantauan dan pengendalian vektor melalui gerakan 3
M.
7. Pemberantasan Penyakit Malaria
Penegakan diagnosa penderita secara cepat dan pengobatan yang tepat
merupakan salah satu upaya penting dalam rangka pemberantasan penyakit Malaria.
Di Kabupaten Lamongan pada tahun 2013 tidak ditemukan penderita
penyakit malaria.( Tabel 24 )
8. Pemberantasan Penyakit Kusta
Upaya pelayanan
terhadap penderita penyakit Kusta antara lain adalah melakukan penemuan
penderita melalui berbagai survei anak sekolah, survei kontak dan pemeriksaan intensif penderita yang datang ke
pelayanan kesehatan dengan keluhan atau kontak dengan penderita penyakit
Kusta.
Semua penderita
yang ditemukan langsung diberikan pengobatan paket MDT yang terdiri atas
Rifampicin, Lampren, dan DDS selama kurun waktu tertentu. Sedangkan untuk
penderita yang ditemukan sudah dalam kondisi parah akan dilakukan rehabilitasi
melalui institusi pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas pelayanan lebih
lengkap.
Pada tahun 2013 ditemukan penderita kusta tipe PB 0 orang dan tipe MB sebanyak 3, dan tipe RFT PB 0 orang dan RFT MB sebanyak 1 (100 %).(tabel 19 dan 20 )
9. Pemberantasan Penyakit Filaria
Upaya kesehatan
dalam rangka pemberantasan penyakit Filaria difokuskan pada kegiatan penemuan
penderita, pengobatan dan pengendalian vektor potensial di wilayah-wilayah
endemis. Di puskesmas
Kecamatan glagah tidak ada penyakit tersebut ( tabel 25 )
D.
PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR
Untuk
memperkecil resiko terjadinya penyakit kusta atau gangguan kesehatan sebagai
akibat dari lingkungan yang kurang sehat, dilakukan berbagai upaya peningkatan
kualitas lingkungan, antara lain dengan pembinaan kesehatan lingkungan pada
institusi yang dilakukan secara berkala. Upaya yang dilakukan mencakup
pemantauan dan pemberian rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas
sanitasi dasar.
Hasil kompilasi data menunjukan bahwa pada tahun 2013 dari
institusi yang dilaporkan 235, yang dibina kesehatan
lingkungannya sebanyak 140 (59,6%). Tabel 68
Dari jumlah institusi tersebut diatas terdistribusi pada sarana kesehatan
30 dan yang dibina 30 (100 %), sarana pendidikan 64 dan yang
dibina 64 (100 %), sarana ibadah 87 dan
yang dibina 0 (0 %) dan institusi perkantoran 38 dan
yang dibina 30 (78,9 %). ( tabel 68 )
1. Pembinaan Kesehatan
Lingkungan
Upaya pembinaan kesehatan
lingkungan diarahkan pada masyarakat dan institusi yang memiliki potensi
mengancam kesehatan masyarakat yang dilakukan secara berkala. Kegiatan
pembinaan dimaksud mencakup upaya pemantauan, penyuluhan dan pemberian
rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas sanitasi dasar (air bersih dan
jamban), pengelolaan sampah, sirkulasi udara, pencahayaan, dan lain-lain.
Dari KK yang
diperiksa pada tahun 2013 sebanyak 8718 terdapat KK yang mempunyai persediaan
air bersih 5241 ( 73,7 %) ( Tabel 64 dan 65 )
Gambar
: 4.9 JUMLAH PEMAKAI SARANA AIR
BERSIH DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

Dan terdapat jamban yang memenuhi
syarat 5173 ( 76,5 %), tempat sampah yang memenuhi
syarat 2685 (60,1 %) dan terdapat pengolahan air limbah keluarga yang memenuhi syarat 1931 (35,7% ) ( table 66 ) .
Gambar : 4.10 SYARAT DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013 KELUARGA
YANG MEMPUNYAI JAMBAN, TEMPAT SAMPAH DAN
AIR LIMBAH MEMENUHI SYARAT KESEHATAN

2. Surveilans Vektor
Upaya
surveilans vektor dilakukan untuk mengendalikan vektor potensial dalam
menularkan penyakit antara lain nyamuk. Kegiatan yang dilakukan meliputi survei
vektor untuk mengetahui jenis potensial, bionomik serta strategi
pengendaliannya.
Pada tahun 2013 jumlah
rumah/bangunan yang diperiksa sebanyak 2750 (41.99%) dan yang dinyatakan bebas jentik sebanyak 2636 (95,85 %). ( Tabel 63 )
3. Pengawasan
Tempat-tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan
Pengawasan terhadap Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan Makanan
(TUPM) dilakukan untuk meminimalkan faktor risiko sumber penularan bagi
masyarakat yang memanfaatkan TTU dan TUPM.
Bentuk kegiatan yang dilakukan antara lain meliputi pengawasan kualitas
lingkungan TTU dan TUPM secara berkala, bimbingan, penyuluhan dan saran
perbaikan dalam pengelolaan lingkungan yang sehat, hingga pemberian rekomendasi untuk penerbitan izin usaha.
Menurut data
Profil Kesehatan tahun 2013, dari 106 TUPM yang ada dan yang diperiksa sebanyak 70 TUPM dan memenuhi syarat kesehatan 27 TUPM 27 ( 38,57% ) (tabel 67)
Gambar : 4.11
JUMLAH TUPM, TTU DI PUSKESMAS
GLAGAH TAHUN 2013

E.
PERBAIKAN
GIZI MASYARAKAT
Upaya
perbaikan gizi masyarakat pada hakekatnya dimaksudkan untuk menangani
permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Beberapa permasalahan gizi sering
dijumpai pada kelompok masyarakat adalah kekurangan kalori protein, kekurangan
vitamin A, gangguan akibat kekurangan yodium dan anemia gizi besi.
1. Pemantauan Pertumbuhan Balita
Upaya
pemantauan terhadap pertumbuhan balita dilakukan melalui kegiatan penimbangan
di posyandu secara rutin setiap bulan. Hasil dari pengumpulan data di puskesmas, jumlah balita yang ada sebanyak 3.041 balita yang ditimbang
sebanyak 2.658, dengan hasil penimbangan jumlah balita dengan berat badan naik sebanyak
1.848
(69,5 %). Sementara itu balita dengan bawah garis merah
(BGM) sebesar 68 (2.6 %).(Tabel 44)
2. Pemberian kapsul Vitamin A
Cakupan pemberian kapsul vitamin
A 2 kali pada balita pada tahun 2013
hasil kompilasi pada seluruh DESA sebanyak 2.607 (85,7 %)
anak dari jumlah anak balita sebanyak 3.041 anak. (Tabel 32 )
3. Pemberian Tablet Besi
Pada
tahun 2013
jumlah ibu hamil yang ada sebesar 606 orang dan yang mendapatkan pemberian tablet besi
(Fe1) 568
(93,73 %) dan Fe3 sebesar 510 ( 84,16 % ) bumil. ( Tabel 30 )
Gambar : 4.12 JUMLAH BAYI, BAYI BGM, JUMLAH BALITA, BALITA
BGM TABEL 26 DAN 44

F. PELAYANAN
KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
Upaya pelayanan
kefarmasian dan alat kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
upaya pelayanan kesehatan secara paripurna. Upaya tersebut dimaksudkan untuk
(1) menjamin ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan obat generik dan obat
esensial yang bermutu bagi masyarakat, (2) mempromosikan penggunaan obat yang
rasional dan obat generik, (3) meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di farmasi
komunitas dan farmasi klinik serta pelayanan kesehatan dasar, serta (4)
melindungi masyarakat dari penggunaan alat kesehatan yang tidak memenuhi
persyaratan, mutu, dan keamanan.
1. Peningkatan Penggunaan Obat Rasional
Upaya peningkatan penggunaan obat rasional, diarahkan kepada peningkatan
cakupan dan kualitas pelayanan pembinaan penggunaan obat yang rasional melalui
pelaksanaan advokasi secara lebih intensif agar terwujud dukungan masyarakat
yang kondusif serta terbangunnya kemitraan dengan unit pelayanan kesehatan
formal. Sampai dengan akhir tahun 2013, penggunaan
obat rasional mencapai 82,12 %. Angka tersebut belum menunjukkan target yang
hendak dicapai yang idealnya penggunaan obat yang rasional mencapai 100%.
Berkaitan dengan hal tersebut perlu terus diupayakan meningkatan obat esensial
nasional di setiap fasilitas kesehatan masyarakat dan melindungi masyarakat
dari risiko pengobatan irasional.
2. Penerapan
Penggunaan Obat Esensial Generik
Kegiatan ini
dimaksudkan agar terjaminnya ketersediaan, keterjangkauan, dan pemerataan obat
dalam pelayanan kesehatan, yang pelaksanaannya mencakup pengadaan buffer stock obat generik esensial,
revitalisasi pemasyarakatan konsepsi obat esensial dan penerapan penggunaan
obat esensial generik pada fasilitas pelayanan pemerintah. Pada tahun 2013 ketersediaan obat esensial sudah
mencapai 86,47 %.
terimakasih untuk artikelnya, silahkan kunjungi website kami
BalasHapushttp://mitoha-goldengamat.com/