MORTALITAS
Gambaran
perkembangan derajat kesehatan
masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke
waktu. Disamping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator
dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan
kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan
berbagai survey dan penelitian.
1. Angka Kematian Bayi ( AKB )
Data
kematian yang terdapat pada suatu komunitas dapat diperoleh melalui survei,
karena sebagian besar kematian terjadi dirumah, sedangkan data kematian pada
fasilitas pelayanan kesehatan hanya
memperlihatkan kasus rujukan. Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia berasal
dari berbagai sumber yaitu sensus penduduk, Surkesnas/Susenas dan Survey
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).
2. Angka Kematian Balita (AKABA)
AKABA
berdasarkan estimasi SUPAS 2010 menunjukkan penurunan dari 64,28 per 1.000 kelahiran
hidup pada tahun 2013 menjadi 44,71 per 1.000 kelahiran hidup pada
tahun 2013. Selain itu, tingkat kematian anak balita
laki-laki lebih besar daripada tingkat kematian anak balita perempuan. Dan pada tahun 2013 Puskesmas di Kecamatan Glagah ada kematian Balita sebanyak 4 balita ( tabel 7 )
3. Angka Kematian Ibu Maternal ( AKI )
Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) di tahun 2013
tidak ada ( Tabe 8 )
4. Umur Harapan Hidup ( UHH )
Penurunan
Angka Kematian Bayi sangat berpengaruh pada kenaikan umur harapan Hidup (UHH)
waktu lahir. Angka Kematian Bayi sangat peka terhadap perubahan dengan
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga perbaikan derajat kesehatan
tercermin pada penurunan AKB dan kenaikan Umur Harapan Hidup (UHH) pada waktu
lahir, meningkatnya umur harapan hidup secara tidak langsung juga memberi
gambaran tentang adanya peningkatan kualitas hidup dan derajat kesehatan
masyarakat.
MORBIDITAS
Angka
Kesakitan penduduk didapat dari data yang berasal dari masyarakat (community
based data) yang dapat diperoleh dengan
melalui studi morbiditas dan hasil pengumpulan data baik dari PUSTU dan
Polindes ( facility based data ) yang diperoleh melalui system pencatatan dan
pelaporan.
1.
Penyakit Menular
Penyakit
menular yang disajikan dalam profil kesehatan antara lain penyakit Malaria, TB
Paru, HIV/AIDS, Infeksi Saluran Pernafasdan Akut (ISPA)
a.
Penyakit Malaria
Penyakit Malaria di Kecamatan Glagah tidak
menjadi masalah kesehatan, namun perlu juga ada pantauan melalui annual
parasite incidence (API), dari hasil laporan dan pengamatan di lapangan tidak ada
penderita malaria. ( Tabel 24 )
b.
Penyakit TB Paru
TB Paru menempati urutan ke 3 penyebab kematian umum (9,4 %), selain
menyerang paru, Tuberculosis dapat menyerang organ lain (extra pulmonary). Data SPM tahun 2013 menunjukkan
bahwa gejala klinis sebanyak 26 kasus (Tabel 11 ), BTA (+) sebanyak 21 orang.
Yang diobati 21 orang dan yang sembuh 20 orang ( 95.24 %). (Tabel 12 ).
Gambar : 3.1 JUMLAH PENDERITA TB
PARU DI KABUPATEN
LAMONGAN TAHUN 2013

c.
Penyakit HIV/AIDS
Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus
menunjukkan peningkatan, meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan
terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah,
menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia., meningkatnya
perilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui
suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat resiko penyebaran HIV/AIDS.
Saat ini Indonesia telah digolongkan sebagai
Negara dengan tingkat epidemi yang terkonsentrasi, yaitu adanya prevalensi
lebih dari 5 % pada sub populasi tertentu, misal pada kelompok pekerja sexual
komersial dan penyalahgunaan NAPZA. Tingkat epidemic ini menunjukkan tingkat
perilaku beresiko yang cukup aktif menularkan di dalam suatu sub populasi
tersebut.
Upaya yang dilakukan dalam rangka pemberantasan
penyakit HIV/AIDS disamping ditujukan pada pananganan penderita yang ditemukan
diarahkan pada upaya pencegahan yang dilakukan
melalui skrening HIV/AIDS terhadap darah donor dan upaya pemantaun dan
pengobatan penderita penyakit menular seksual.
Di Kecamatan Glagah terdapat 1 orang kasus
HIV ( Tabel 14 )
d.
Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )
ISPA masih
merupakan penyakit utama penyabab kematian bayi dan balita di Indonesia. Dari
beberapa hasil kegiatan SKRT diketahui bahwa 80,00 sampai 90,00 % dari seluruh
kasus kematian ISPA disebabkan pneumonia. Pneumonia merupakan penyabab kematian
pada balita dengan peringlat pertama hasil dari Surkesnas 2001. ISPA sebagai
penyebab utama kematian pada bayi dan balita diduga karena pneumonia dan
merupakan penyakit yang akut dan kualitas penatalaksanaannya masih belum
memadai.
Upaya dalam rangka
pemberantasan penyakit infeksi saluran pernafasan akut lebih difokuskan pada
upaya penemuan dini dan tatalaksana kasus yang cepat dan tepat terhadap
penderita pneumonia balita tidak ditemukan penderita (Tabel 13)
e.
Penyakit Kusta.
Sampai saat ini penyakit kusta masih
menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Hal ini terbukti dari masih tingginya jumlah
penderita kusta di Indonesia dan merupakan negara urutan ketiga penderita
terbanyak di dunia. Penyakit kusta dapat mengakibatkan kecacatan pada
penderita. Masalah ini diperberat dengan masih tingginya stigma dikalangan
masyarakat dan sebagian petugas. Akibat dari kondisi ini sebagian penderita dan
mantan penderita dikucilkan sehingga tidak mendapatkan akses pelayanan
kesehatan serta pekerjaan yang berakibat pada meningkatnya angka kemiskinan.
Di Kecamatan
Glagah Penderita kusta type PB ada 0 dan type MB 3
penderita , penderita MB Sebanyak 0 orang (RFT) type MB sebanyak 1 orang (Tabel 20 )
Gambar : 3.2 JUMLAH PENDERITA
KUSTA DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

2.
Penyakit Menular Yang dapat Dicegah Dengan Iminisasi ( PD3I )
PD3I merupakan
penyakit yang diharapkan dapat diberantas / ditekan dengan pelaksanaan program
imuniasasi, pada profil kesehatan ini akan dibahas penyakit tetanus neonatorum,
campak, difteri, pertusis dan hepatitis B.
a.
Tetanus Neonatorum
Jumlah kasus
tetanus neonatorum di Kabupaten Lamongan pada tahun 2013 tidak ada.
Jumlah Kasus
tetanus neonatorium di Kecamatan Glagah Tahun 2013 Tidak ada
b.
Campak
Campak merupakan penyakit menular yang
sering menyebabkan kejadian luar biasa. Dan di Kecamatan Glagah tidak ada kasus Campak
c.
Difteri
Difteri termasuk penyakit menular yang
jumlah kasusnya relative rendah, rendahnya kasus difteri sangat dipengaruhi
adanya program imunisasi, KLB difteri kadang-kadang masih terjadi.
Pada Tahun 2013, di Puskesmas
Glagah tidak ditemukan kasus penyakit difteri.
d.
Pertusis
Pada Tahun 2013, di Kecamatan
Glagah tidak ditemukan kasus penyakit pertusis.
e.
Hepatitis B
Pada Tahun 2013, di Kecamatan
Glagah tidak ditemukan kasus penyakit Hepatitis B.
3.
Penyakit Potensi KLB / Wabah
a.
Demam Berdarah Dengue
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
telah menyebar luas ke seluruh wilayah. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB
dengan angka kesakitan dan kematian relative tinggi. Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi
dari tahun ke tahun. Pada awalnya pola epidemic terjadi setiap lima tahunan,
namun dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan
periode antara 2-5 tahunan, sedangkan angka kematian cenderung menurun.
Upaya pemberantasan
DBD ditik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan
serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3 M), pemantauan angka bebas
jentik (ABJ) serta pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga.
Jumlah kasus DBD di
Kecamatan glagah pada tahun 2013 tidak ada kasus (Tabel 23).
b.
Diare
Untuk kasus diare
pada balita di Kecamatan glagah tahun 2013 sebanyak 1088, sedangkan diare
yang ditangani 1088 ( 100 %), ( Tabel 16 )
c.
Filariasis
Kasus penyakit
Filariasis di Kecamatan glagah pada tahun 2013 tidak ada kasus.
4. Penyakit Tidak
Menular
Semakin meningkatnya
arus globalisasi di segala bidang, perkembangan teknologi dan industri telah
banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat, serta situasi
lingkungan misalnya perubahan pola konsumsi makanan, berkurangnya aktivitas
fisik dan meningkatnya polusi lingkungan. Perubahan tersebut tanpa disadari
telah memberi pengaruh terhadap terjadinya transisi epidemiologi dengan semakin
meningkatnya kasus-kasus penyakit tidak menular seperti Penyakit Jantung,
Tumor, Diabetes, Hipertensi, Gagal Ginjal, dan sebagainya.
a.
Sakit Persendian/Rematik
Sakit
persendian/rematik adalah penyakit radang kronis yang menyerang persendian dan
mengganggu fungsi persendian. Hasil Surkesnas/Susenas 2004, di antara penduduk
Indonesia umur > 15 tahun sebanyak 6% pernah didiagnosa sakit
persendian oleh tenaga kesehatan. Sedangkan hasil Surkesnas/SKRT 2004,
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan, 11% penduduk berumur 15 tahun atau
lebih pernah menderita penyakit persendian. Di Kabupaten Lamongan pada kunjungan
rawat jalan penyakit pada sistim otot
dan jaringan pengikat / rematik menduduki ranking pertama dengan jumlah kinjungan 86.672 ( 5, 74 % ) dari jumlah kunjungan.
b. Diabetes Melitus
Berdasarkan Surkesnas/SKRT
2004, diabetes melitus merupakan penyakit yang menurut diagnosis tenaga
kesehatan, 1% penduduk berumur 15 tahun pernah menderitanya. Di Kabupaten Lamongan penderita diabetus
melitus dari kunjungan rawat jalan sebanyak 5.536 ( 0,52 % )
c. Cedera dan Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan Lalu Lintas
(KLL) dapat menyebabkan luka ringan, luka berat maupun kematian. Selama tahun
2013, tercatat 71 kasus KLL dengan korban sebanyak 62 orang, terdiri dari
korban meninggal sebanyak 0 orang (0 %), luka berat 11 orang ( 17,74 %), dan
luka ringan 51 orang ( 82,26 %). Kejadian KLL terbanyak terjadi di jalur glagah
lamongan dan glagah betoyo gresik
Gambar
: 3.3 JUMLAH KECELAKAAN LALU
LINTAS DI KECAMATAN GLAGAH TAHUN 2013

d. Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut
Pelayanan kesehatan
dasar gigi dan mulut adalah pencabutan gigi tetap sebanyak 214 dan tumpatan gigi tetap sebanyak
71 ( Tabel 52 ).
3. Penyalahgunaan NAPZA/Narkotika, Psikotropika dan
Zat Adiktif Lainnya)
Ditinjau dari jenisnya, ketergantungan NAPZA
merupakan penyakit mental dan perilaku, yang dapat berdampak pada kondisi
kejiwaan yang bersangkutan dan masalah lingkungan sosial. Walaupun tidak ada
data yang pasti mengenai jumlah kasus penyalahguna NAPZA, namun diperkirakan
dalam beberapa tahun terakhir ini jumlah kasus penyalahguna NAPZA cenderung
semakin meningkat, bahkan jumlah yang sebenarnya ada di masyarakat diperkirakan
jauh lebih besar daripada kasus yang dilaporkan, seperti fenomena “gunung es”.
Faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat
kompleks yang diakibatkan interaksi antara faktor-faktor yang terkait dengan
individu, lingkungan dan tersedianya zat (NAPZA). Tidak ada penyebab tunggal (single cause) yang mempengaruhi
terjadinya penyalahgunaan NAPZA.
Kegiatan untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA
pada tahun 2013 di Kecamatan Glagah
dilakukan penyuluhan dengan sasaran
tokoh masyarakat, tokoh agama, pendidik, LSM, murid sekolah sebanyak 54 kali.
C.
STATUS GIZI
Status gizi masyarakat dapat
diukur melalui beberapa indikator, antara lain bayi dengan berat badan lahir
rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi wanita usia subur kurang energi
kronis (KEK).
1.
Bayi Dengan Berat Badan lahir
Rendah (BBLR)
Berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu
faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR
dibedakan dalam 2 katagori yaitu BBLR karena premature atau BBLR karena
intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan
tetapi berat badannya kurang. Di Negara berkembang banyak BBLR dengan IUGR
karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria dan menderita penyakit menular
seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat kehamilan. Sementara itu jumlah
BBLR di Kecamatan glagah sebanyak 15 (3,0 %) dari 561 bayi
lahir hidup dan tertangani seluruhnya 100 %. ( Tabel 26 )
2.
Gizi Balita
Status gizi balita merupakan salah
satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu
cara penilaian status gizi balita adalah pengukuran secara anthropometric yang
menggunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). Jumlah balita yang
ditimbang di Kecamatan glagah tahun 2013 adalah 2.658 balita sedang yang
BGM sebanyak 3 balita (0,1 %) dan yang mendapatkan perawatan seluruhnya 100 %.(Tabel 27 )
3.
Status Gizi Wanita Usia Subur
Kurang Energi Kronik (KEK)
Salah satu cara untuk mengetahui
status gizi Wanita Usia Subur (WUS) umur 15-49 tahun adalah dengan melakukan
pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Hasil pengukuran ini bisa digunakan
sebagai salah satu cara dalam mengidentifikasi seberapa besar seorang wanita
mempunyai risiko untuk melahirkan bayi BBLR. Indikator Kurang Energi Kronik
(KEK) menggunakan standar LILA <23,5cm. Dari hasil kegiatan tahun 2013 diperoleh angka sebesar 121 bumil KEK, dan yang ditangani sebanyak 99 (81,7 %). ( Tabel 31 )
4.
Gangguan Akibat Kekurangan
Yodium
Salah satu
masalah gizi yang perlu mendapat perhatian adalah gangguan akibat kekurangan
yodium (GAKY). GAKY dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik dan
keterbelakangan mental. Gangguan pertumbuhan fisik meliputi pembesaran kelanjar
tiroid (gondok), bisu, tuli, kretin (kredil), gangguan motorik,bisu, tuli dan
mata juling. Pemberian kapsul yodium dimaksudkan untuk mencegah lahirnya bayi
kretin, karena itu sasaran pemberian kapsul yodium adalah wanita usia subur
(WUS) termasuk ibu hamil dan ibu nifas. Angka prevalensi gondok atau total
goiter rate dihitung berdasarkan seluruh stadium pembesaran kelenjar, baik yang
teraba maupun yang terlihat. GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat,
karena secara umum prevalensinya diatas 5,00 %.
Jumlah WUS
di Kec. Glagah sebanyak 606 orang dengan WUS yang
mendapatkan kapsul yodium sebanyak 0 (0,00 %). Pada tahun 2012 jumlah desa/kelurahan
sebanyak 29, sedang jumlah desa / kelurahan endemis sebanyak 0 ( 0 %). ( Tabel 30 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar