Rabu, 08 Oktober 2014

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

MORTALITAS
Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Disamping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survey dan penelitian.
1.      Angka Kematian Bayi ( AKB )
Data kematian yang terdapat pada suatu komunitas dapat diperoleh melalui survei, karena sebagian besar kematian terjadi dirumah, sedangkan data kematian pada fasilitas pelayanan kesehatan  hanya memperlihatkan kasus rujukan. Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia berasal dari berbagai sumber yaitu sensus penduduk, Surkesnas/Susenas dan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).
Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB tetapi tidak mudah untuk menemukan faktor yang paling dominan. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksebilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil, serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB. Menurut AKB dalam beberapa waktu terakhir memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat.
2.      Angka Kematian Balita (AKABA)
AKABA berdasarkan estimasi SUPAS 2010 menunjukkan penurunan dari 64,28 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2013 menjadi 44,71 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2013. Selain itu, tingkat kematian anak balita laki-laki lebih besar daripada tingkat kematian anak balita perempuan. Dan pada tahun 2013 Puskesmas di Kecamatan Glagah  ada kematian Balita sebanyak 4 balita ( tabel 7 )
3.      Angka Kematian Ibu Maternal ( AKI )

           Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) di tahun 2013 tidak ada ( Tabe 8 )
4.      Umur Harapan Hidup ( UHH )
Penurunan Angka Kematian Bayi sangat berpengaruh pada kenaikan umur harapan Hidup (UHH) waktu lahir. Angka Kematian Bayi sangat peka terhadap perubahan dengan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga perbaikan derajat kesehatan tercermin pada penurunan AKB dan kenaikan Umur Harapan Hidup (UHH) pada waktu lahir, meningkatnya umur harapan hidup secara tidak langsung juga memberi gambaran tentang adanya peningkatan kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat.

MORBIDITAS
Angka Kesakitan penduduk didapat dari data yang berasal dari masyarakat (community based data) yang dapat  diperoleh dengan melalui studi morbiditas dan hasil pengumpulan data baik dari PUSTU dan Polindes ( facility based data ) yang diperoleh melalui system pencatatan dan pelaporan.
1.      Penyakit Menular
Penyakit menular yang disajikan dalam profil kesehatan antara lain penyakit Malaria, TB Paru, HIV/AIDS, Infeksi Saluran Pernafasdan Akut (ISPA)
a.      Penyakit Malaria
Penyakit Malaria di Kecamatan Glagah tidak menjadi masalah kesehatan, namun perlu juga ada pantauan melalui annual parasite incidence (API), dari hasil laporan dan pengamatan di lapangan tidak ada penderita malaria. ( Tabel 24 )
b.      Penyakit TB Paru
TB Paru menempati urutan ke 3 penyebab kematian umum (9,4 %), selain menyerang paru, Tuberculosis dapat menyerang organ lain (extra pulmonary). Data SPM tahun 2013 menunjukkan bahwa gejala  klinis sebanyak 26 kasus (Tabel 11 ),  BTA (+) sebanyak 21 orang. Yang diobati 21 orang dan yang sembuh 20 orang ( 95.24 %). (Tabel 12 ).

Gambar : 3.1   JUMLAH PENDERITA TB PARU DI KABUPATEN
LAMONGAN TAHUN 2013

c.       Penyakit HIV/AIDS
Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan, meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia., meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat resiko penyebaran HIV/AIDS.
Saat ini Indonesia telah digolongkan sebagai Negara dengan tingkat epidemi yang terkonsentrasi, yaitu adanya prevalensi lebih dari 5 % pada sub populasi tertentu, misal pada kelompok pekerja sexual komersial dan penyalahgunaan NAPZA. Tingkat epidemic ini menunjukkan tingkat perilaku beresiko yang cukup aktif menularkan di dalam suatu sub populasi tersebut.
Upaya yang dilakukan dalam rangka pemberantasan penyakit HIV/AIDS disamping ditujukan pada pananganan penderita yang ditemukan diarahkan pada upaya pencegahan yang dilakukan  melalui skrening HIV/AIDS terhadap darah donor dan upaya pemantaun dan pengobatan penderita penyakit menular seksual.
Di Kecamatan Glagah terdapat 1 orang kasus HIV   ( Tabel 14 )

d.      Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )
ISPA masih merupakan penyakit utama penyabab kematian bayi dan balita di Indonesia. Dari beberapa hasil kegiatan SKRT diketahui bahwa 80,00 sampai 90,00 % dari seluruh kasus kematian ISPA disebabkan pneumonia. Pneumonia merupakan penyabab kematian pada balita dengan peringlat pertama hasil dari Surkesnas 2001. ISPA sebagai penyebab utama kematian pada bayi dan balita diduga karena pneumonia dan merupakan penyakit yang akut dan kualitas penatalaksanaannya masih belum memadai.
Upaya dalam rangka pemberantasan penyakit infeksi saluran pernafasan akut lebih difokuskan pada upaya penemuan dini dan tatalaksana kasus yang cepat dan tepat terhadap penderita pneumonia balita tidak ditemukan penderita (Tabel 13)

e.       Penyakit Kusta.
            Sampai saat ini penyakit kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Hal ini terbukti dari masih tingginya jumlah penderita kusta di Indonesia dan merupakan negara urutan ketiga penderita terbanyak di dunia. Penyakit kusta dapat mengakibatkan kecacatan pada penderita. Masalah ini diperberat dengan masih tingginya stigma dikalangan masyarakat dan sebagian petugas. Akibat dari kondisi ini sebagian penderita dan mantan penderita dikucilkan sehingga tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan serta pekerjaan yang berakibat pada meningkatnya angka kemiskinan.
Di Kecamatan Glagah  Penderita kusta type PB ada 0 dan type MB 3 penderita , penderita MB Sebanyak 0 orang (RFT) type MB sebanyak 1 orang   (Tabel 20 )

Gambar : 3.2 JUMLAH PENDERITA KUSTA DI PUSKESMAS GLAGAH                   TAHUN 2013




2.      Penyakit Menular Yang dapat Dicegah Dengan Iminisasi ( PD3I )
PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas / ditekan dengan pelaksanaan program imuniasasi, pada profil kesehatan ini akan dibahas penyakit tetanus neonatorum, campak, difteri, pertusis dan hepatitis B.

a.      Tetanus Neonatorum
Jumlah kasus tetanus neonatorum di Kabupaten Lamongan pada tahun 2013  tidak ada.
Jumlah Kasus tetanus neonatorium di Kecamatan Glagah Tahun 2013 Tidak ada

b.      Campak
Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan kejadian luar biasa. Dan di Kecamatan Glagah tidak ada kasus Campak
c.       Difteri
Difteri termasuk penyakit menular yang jumlah kasusnya relative rendah, rendahnya kasus difteri sangat dipengaruhi adanya program imunisasi, KLB difteri kadang-kadang masih terjadi.
Pada Tahun 2013, di Puskesmas Glagah tidak ditemukan kasus penyakit difteri.
d.      Pertusis
Pada Tahun 2013, di Kecamatan Glagah tidak ditemukan kasus penyakit pertusis.
e.       Hepatitis B
Pada Tahun 2013, di Kecamatan Glagah tidak ditemukan kasus penyakit Hepatitis B.

3.      Penyakit Potensi KLB / Wabah

a.      Demam Berdarah Dengue
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar luas ke seluruh wilayah. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan dan kematian relative tinggi. Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada awalnya pola epidemic terjadi setiap lima tahunan, namun dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan periode antara 2-5 tahunan, sedangkan angka kematian cenderung menurun.
Upaya pemberantasan DBD ditik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3 M), pemantauan angka bebas jentik (ABJ) serta pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga.
Jumlah kasus DBD di Kecamatan glagah pada tahun 2013 tidak ada kasus         (Tabel 23).

b.      Diare
Untuk kasus diare pada balita di Kecamatan glagah tahun 2013 sebanyak 1088, sedangkan diare yang ditangani 1088 ( 100 %), ( Tabel 16 )

c.       Filariasis
Kasus penyakit Filariasis di Kecamatan glagah pada tahun 2013 tidak ada  kasus.

4.  Penyakit Tidak Menular
Semakin meningkatnya arus globalisasi di segala bidang, perkembangan teknologi dan industri telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat, serta situasi lingkungan misalnya perubahan pola konsumsi makanan, berkurangnya aktivitas fisik dan meningkatnya polusi lingkungan. Perubahan tersebut tanpa disadari telah memberi pengaruh terhadap terjadinya transisi epidemiologi dengan semakin meningkatnya kasus-kasus penyakit tidak menular seperti Penyakit Jantung, Tumor, Diabetes, Hipertensi, Gagal Ginjal, dan sebagainya.

a.      Sakit Persendian/Rematik
Sakit persendian/rematik adalah penyakit radang kronis yang menyerang persendian dan mengganggu fungsi persendian. Hasil Surkesnas/Susenas 2004, di antara penduduk Indonesia umur > 15 tahun sebanyak 6% pernah didiagnosa sakit persendian oleh tenaga kesehatan. Sedangkan hasil Surkesnas/SKRT 2004, berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan, 11% penduduk berumur 15 tahun atau lebih pernah menderita penyakit persendian. Di Kabupaten Lamongan pada kunjungan rawat jalan  penyakit pada sistim otot dan jaringan pengikat / rematik menduduki ranking pertama  dengan jumlah kinjungan 86.672  ( 5, 74 % ) dari jumlah kunjungan.
b.  Diabetes  Melitus
Berdasarkan Surkesnas/SKRT 2004, diabetes melitus merupakan penyakit yang menurut diagnosis tenaga kesehatan, 1% penduduk berumur 15 tahun pernah menderitanya.  Di Kabupaten Lamongan penderita diabetus melitus dari kunjungan rawat jalan sebanyak 5.536 ( 0,52 % )
c. Cedera dan Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan Lalu Lintas (KLL) dapat menyebabkan luka ringan, luka berat maupun kematian. Selama tahun 2013, tercatat 71 kasus KLL dengan korban sebanyak 62 orang, terdiri dari korban meninggal sebanyak 0 orang (0 %), luka berat 11 orang ( 17,74 %), dan luka ringan 51 orang ( 82,26 %). Kejadian KLL terbanyak terjadi di jalur glagah lamongan dan glagah betoyo gresik


Gambar  : 3.3      JUMLAH KECELAKAAN LALU LINTAS DI KECAMATAN GLAGAH TAHUN 2013


d.      Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut

Pelayanan kesehatan dasar gigi dan mulut adalah pencabutan gigi tetap  sebanyak 214 dan tumpatan gigi tetap sebanyak 71 ( Tabel 52 ).
           
3. Penyalahgunaan NAPZA/Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya)
Ditinjau dari jenisnya, ketergantungan NAPZA merupakan penyakit mental dan perilaku, yang dapat berdampak pada kondisi kejiwaan yang bersangkutan dan masalah lingkungan sosial. Walaupun tidak ada data yang pasti mengenai jumlah kasus penyalahguna NAPZA, namun diperkirakan dalam beberapa tahun terakhir ini jumlah kasus penyalahguna NAPZA cenderung semakin meningkat, bahkan jumlah yang sebenarnya ada di masyarakat diperkirakan jauh lebih besar daripada kasus yang dilaporkan, seperti fenomena “gunung es”.
Faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks yang diakibatkan interaksi antara faktor-faktor yang terkait dengan individu, lingkungan dan tersedianya zat (NAPZA). Tidak ada penyebab tunggal (single cause) yang mempengaruhi terjadinya penyalahgunaan NAPZA. 
Kegiatan untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA pada tahun 2013 di Kecamatan Glagah dilakukan penyuluhan  dengan sasaran tokoh masyarakat, tokoh agama, pendidik, LSM, murid sekolah sebanyak 54 kali.

C.    STATUS GIZI
Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator, antara lain bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi wanita usia subur kurang energi kronis (KEK).
1.      Bayi Dengan Berat Badan lahir Rendah (BBLR)
Berat badan lahir rendah  (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 katagori yaitu BBLR karena premature atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di Negara berkembang banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat kehamilan. Sementara itu jumlah BBLR  di Kecamatan glagah sebanyak 15 (3,0 %) dari 561 bayi lahir hidup dan tertangani seluruhnya 100 %. ( Tabel 26 )
2.      Gizi Balita
Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah pengukuran secara anthropometric yang menggunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). Jumlah balita yang ditimbang di Kecamatan glagah tahun 2013 adalah 2.658 balita  sedang yang BGM sebanyak 3 balita (0,1 %) dan yang mendapatkan perawatan seluruhnya 100 %.(Tabel 27 )       
3.      Status Gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Kronik (KEK)
Salah satu cara untuk mengetahui status gizi Wanita Usia Subur (WUS) umur 15-49 tahun adalah dengan melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Hasil pengukuran ini bisa digunakan sebagai salah satu cara dalam mengidentifikasi seberapa besar seorang wanita mempunyai risiko untuk melahirkan bayi BBLR. Indikator Kurang Energi Kronik (KEK) menggunakan standar LILA <23,5cm. Dari hasil kegiatan tahun 2013 diperoleh angka sebesar 121  bumil KEK, dan yang ditangani sebanyak 99 (81,7 %). ( Tabel 31  )
4.      Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
Salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian adalah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). GAKY dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik dan keterbelakangan mental. Gangguan pertumbuhan fisik meliputi pembesaran kelanjar tiroid (gondok), bisu, tuli, kretin (kredil), gangguan motorik,bisu, tuli dan mata juling. Pemberian kapsul yodium dimaksudkan untuk mencegah lahirnya bayi kretin, karena itu sasaran pemberian kapsul yodium adalah wanita usia subur (WUS) termasuk ibu hamil dan ibu nifas. Angka prevalensi gondok atau total goiter rate dihitung berdasarkan seluruh stadium pembesaran kelenjar, baik yang teraba maupun yang terlihat. GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat, karena secara umum prevalensinya diatas 5,00 %.
Jumlah WUS di Kec. Glagah sebanyak 606 orang dengan WUS yang mendapatkan kapsul yodium sebanyak 0 (0,00 %). Pada tahun 2012 jumlah desa/kelurahan sebanyak 29, sedang jumlah desa / kelurahan endemis sebanyak 0 ( 0 %). ( Tabel 30 )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar