Sabtu, 25 Oktober 2014
Rabu, 08 Oktober 2014
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
MORTALITAS
Gambaran
perkembangan derajat kesehatan
masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke
waktu. Disamping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator
dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan
kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan
berbagai survey dan penelitian.
1. Angka Kematian Bayi ( AKB )
Data
kematian yang terdapat pada suatu komunitas dapat diperoleh melalui survei,
karena sebagian besar kematian terjadi dirumah, sedangkan data kematian pada
fasilitas pelayanan kesehatan hanya
memperlihatkan kasus rujukan. Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia berasal
dari berbagai sumber yaitu sensus penduduk, Surkesnas/Susenas dan Survey
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).
2. Angka Kematian Balita (AKABA)
AKABA
berdasarkan estimasi SUPAS 2010 menunjukkan penurunan dari 64,28 per 1.000 kelahiran
hidup pada tahun 2013 menjadi 44,71 per 1.000 kelahiran hidup pada
tahun 2013. Selain itu, tingkat kematian anak balita
laki-laki lebih besar daripada tingkat kematian anak balita perempuan. Dan pada tahun 2013 Puskesmas di Kecamatan Glagah ada kematian Balita sebanyak 4 balita ( tabel 7 )
3. Angka Kematian Ibu Maternal ( AKI )
Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) di tahun 2013
tidak ada ( Tabe 8 )
4. Umur Harapan Hidup ( UHH )
Penurunan
Angka Kematian Bayi sangat berpengaruh pada kenaikan umur harapan Hidup (UHH)
waktu lahir. Angka Kematian Bayi sangat peka terhadap perubahan dengan
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga perbaikan derajat kesehatan
tercermin pada penurunan AKB dan kenaikan Umur Harapan Hidup (UHH) pada waktu
lahir, meningkatnya umur harapan hidup secara tidak langsung juga memberi
gambaran tentang adanya peningkatan kualitas hidup dan derajat kesehatan
masyarakat.
MORBIDITAS
Angka
Kesakitan penduduk didapat dari data yang berasal dari masyarakat (community
based data) yang dapat diperoleh dengan
melalui studi morbiditas dan hasil pengumpulan data baik dari PUSTU dan
Polindes ( facility based data ) yang diperoleh melalui system pencatatan dan
pelaporan.
1.
Penyakit Menular
Penyakit
menular yang disajikan dalam profil kesehatan antara lain penyakit Malaria, TB
Paru, HIV/AIDS, Infeksi Saluran Pernafasdan Akut (ISPA)
a.
Penyakit Malaria
Penyakit Malaria di Kecamatan Glagah tidak
menjadi masalah kesehatan, namun perlu juga ada pantauan melalui annual
parasite incidence (API), dari hasil laporan dan pengamatan di lapangan tidak ada
penderita malaria. ( Tabel 24 )
b.
Penyakit TB Paru
TB Paru menempati urutan ke 3 penyebab kematian umum (9,4 %), selain
menyerang paru, Tuberculosis dapat menyerang organ lain (extra pulmonary). Data SPM tahun 2013 menunjukkan
bahwa gejala klinis sebanyak 26 kasus (Tabel 11 ), BTA (+) sebanyak 21 orang.
Yang diobati 21 orang dan yang sembuh 20 orang ( 95.24 %). (Tabel 12 ).
Gambar : 3.1 JUMLAH PENDERITA TB
PARU DI KABUPATEN
LAMONGAN TAHUN 2013

c.
Penyakit HIV/AIDS
Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus
menunjukkan peningkatan, meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan
terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah,
menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia., meningkatnya
perilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui
suntikan, secara simultan telah memperbesar tingkat resiko penyebaran HIV/AIDS.
Saat ini Indonesia telah digolongkan sebagai
Negara dengan tingkat epidemi yang terkonsentrasi, yaitu adanya prevalensi
lebih dari 5 % pada sub populasi tertentu, misal pada kelompok pekerja sexual
komersial dan penyalahgunaan NAPZA. Tingkat epidemic ini menunjukkan tingkat
perilaku beresiko yang cukup aktif menularkan di dalam suatu sub populasi
tersebut.
Upaya yang dilakukan dalam rangka pemberantasan
penyakit HIV/AIDS disamping ditujukan pada pananganan penderita yang ditemukan
diarahkan pada upaya pencegahan yang dilakukan
melalui skrening HIV/AIDS terhadap darah donor dan upaya pemantaun dan
pengobatan penderita penyakit menular seksual.
Di Kecamatan Glagah terdapat 1 orang kasus
HIV ( Tabel 14 )
d.
Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )
ISPA masih
merupakan penyakit utama penyabab kematian bayi dan balita di Indonesia. Dari
beberapa hasil kegiatan SKRT diketahui bahwa 80,00 sampai 90,00 % dari seluruh
kasus kematian ISPA disebabkan pneumonia. Pneumonia merupakan penyabab kematian
pada balita dengan peringlat pertama hasil dari Surkesnas 2001. ISPA sebagai
penyebab utama kematian pada bayi dan balita diduga karena pneumonia dan
merupakan penyakit yang akut dan kualitas penatalaksanaannya masih belum
memadai.
Upaya dalam rangka
pemberantasan penyakit infeksi saluran pernafasan akut lebih difokuskan pada
upaya penemuan dini dan tatalaksana kasus yang cepat dan tepat terhadap
penderita pneumonia balita tidak ditemukan penderita (Tabel 13)
e.
Penyakit Kusta.
Sampai saat ini penyakit kusta masih
menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Hal ini terbukti dari masih tingginya jumlah
penderita kusta di Indonesia dan merupakan negara urutan ketiga penderita
terbanyak di dunia. Penyakit kusta dapat mengakibatkan kecacatan pada
penderita. Masalah ini diperberat dengan masih tingginya stigma dikalangan
masyarakat dan sebagian petugas. Akibat dari kondisi ini sebagian penderita dan
mantan penderita dikucilkan sehingga tidak mendapatkan akses pelayanan
kesehatan serta pekerjaan yang berakibat pada meningkatnya angka kemiskinan.
Di Kecamatan
Glagah Penderita kusta type PB ada 0 dan type MB 3
penderita , penderita MB Sebanyak 0 orang (RFT) type MB sebanyak 1 orang (Tabel 20 )
Gambar : 3.2 JUMLAH PENDERITA
KUSTA DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

2.
Penyakit Menular Yang dapat Dicegah Dengan Iminisasi ( PD3I )
PD3I merupakan
penyakit yang diharapkan dapat diberantas / ditekan dengan pelaksanaan program
imuniasasi, pada profil kesehatan ini akan dibahas penyakit tetanus neonatorum,
campak, difteri, pertusis dan hepatitis B.
a.
Tetanus Neonatorum
Jumlah kasus
tetanus neonatorum di Kabupaten Lamongan pada tahun 2013 tidak ada.
Jumlah Kasus
tetanus neonatorium di Kecamatan Glagah Tahun 2013 Tidak ada
b.
Campak
Campak merupakan penyakit menular yang
sering menyebabkan kejadian luar biasa. Dan di Kecamatan Glagah tidak ada kasus Campak
c.
Difteri
Difteri termasuk penyakit menular yang
jumlah kasusnya relative rendah, rendahnya kasus difteri sangat dipengaruhi
adanya program imunisasi, KLB difteri kadang-kadang masih terjadi.
Pada Tahun 2013, di Puskesmas
Glagah tidak ditemukan kasus penyakit difteri.
d.
Pertusis
Pada Tahun 2013, di Kecamatan
Glagah tidak ditemukan kasus penyakit pertusis.
e.
Hepatitis B
Pada Tahun 2013, di Kecamatan
Glagah tidak ditemukan kasus penyakit Hepatitis B.
3.
Penyakit Potensi KLB / Wabah
a.
Demam Berdarah Dengue
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
telah menyebar luas ke seluruh wilayah. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB
dengan angka kesakitan dan kematian relative tinggi. Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi
dari tahun ke tahun. Pada awalnya pola epidemic terjadi setiap lima tahunan,
namun dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan
periode antara 2-5 tahunan, sedangkan angka kematian cenderung menurun.
Upaya pemberantasan
DBD ditik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan
serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3 M), pemantauan angka bebas
jentik (ABJ) serta pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga.
Jumlah kasus DBD di
Kecamatan glagah pada tahun 2013 tidak ada kasus (Tabel 23).
b.
Diare
Untuk kasus diare
pada balita di Kecamatan glagah tahun 2013 sebanyak 1088, sedangkan diare
yang ditangani 1088 ( 100 %), ( Tabel 16 )
c.
Filariasis
Kasus penyakit
Filariasis di Kecamatan glagah pada tahun 2013 tidak ada kasus.
4. Penyakit Tidak
Menular
Semakin meningkatnya
arus globalisasi di segala bidang, perkembangan teknologi dan industri telah
banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat, serta situasi
lingkungan misalnya perubahan pola konsumsi makanan, berkurangnya aktivitas
fisik dan meningkatnya polusi lingkungan. Perubahan tersebut tanpa disadari
telah memberi pengaruh terhadap terjadinya transisi epidemiologi dengan semakin
meningkatnya kasus-kasus penyakit tidak menular seperti Penyakit Jantung,
Tumor, Diabetes, Hipertensi, Gagal Ginjal, dan sebagainya.
a.
Sakit Persendian/Rematik
Sakit
persendian/rematik adalah penyakit radang kronis yang menyerang persendian dan
mengganggu fungsi persendian. Hasil Surkesnas/Susenas 2004, di antara penduduk
Indonesia umur > 15 tahun sebanyak 6% pernah didiagnosa sakit
persendian oleh tenaga kesehatan. Sedangkan hasil Surkesnas/SKRT 2004,
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan, 11% penduduk berumur 15 tahun atau
lebih pernah menderita penyakit persendian. Di Kabupaten Lamongan pada kunjungan
rawat jalan penyakit pada sistim otot
dan jaringan pengikat / rematik menduduki ranking pertama dengan jumlah kinjungan 86.672 ( 5, 74 % ) dari jumlah kunjungan.
b. Diabetes Melitus
Berdasarkan Surkesnas/SKRT
2004, diabetes melitus merupakan penyakit yang menurut diagnosis tenaga
kesehatan, 1% penduduk berumur 15 tahun pernah menderitanya. Di Kabupaten Lamongan penderita diabetus
melitus dari kunjungan rawat jalan sebanyak 5.536 ( 0,52 % )
c. Cedera dan Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan Lalu Lintas
(KLL) dapat menyebabkan luka ringan, luka berat maupun kematian. Selama tahun
2013, tercatat 71 kasus KLL dengan korban sebanyak 62 orang, terdiri dari
korban meninggal sebanyak 0 orang (0 %), luka berat 11 orang ( 17,74 %), dan
luka ringan 51 orang ( 82,26 %). Kejadian KLL terbanyak terjadi di jalur glagah
lamongan dan glagah betoyo gresik
Gambar
: 3.3 JUMLAH KECELAKAAN LALU
LINTAS DI KECAMATAN GLAGAH TAHUN 2013

d. Masalah Kesehatan Gigi dan Mulut
Pelayanan kesehatan
dasar gigi dan mulut adalah pencabutan gigi tetap sebanyak 214 dan tumpatan gigi tetap sebanyak
71 ( Tabel 52 ).
3. Penyalahgunaan NAPZA/Narkotika, Psikotropika dan
Zat Adiktif Lainnya)
Ditinjau dari jenisnya, ketergantungan NAPZA
merupakan penyakit mental dan perilaku, yang dapat berdampak pada kondisi
kejiwaan yang bersangkutan dan masalah lingkungan sosial. Walaupun tidak ada
data yang pasti mengenai jumlah kasus penyalahguna NAPZA, namun diperkirakan
dalam beberapa tahun terakhir ini jumlah kasus penyalahguna NAPZA cenderung
semakin meningkat, bahkan jumlah yang sebenarnya ada di masyarakat diperkirakan
jauh lebih besar daripada kasus yang dilaporkan, seperti fenomena “gunung es”.
Faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat
kompleks yang diakibatkan interaksi antara faktor-faktor yang terkait dengan
individu, lingkungan dan tersedianya zat (NAPZA). Tidak ada penyebab tunggal (single cause) yang mempengaruhi
terjadinya penyalahgunaan NAPZA.
Kegiatan untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA
pada tahun 2013 di Kecamatan Glagah
dilakukan penyuluhan dengan sasaran
tokoh masyarakat, tokoh agama, pendidik, LSM, murid sekolah sebanyak 54 kali.
C.
STATUS GIZI
Status gizi masyarakat dapat
diukur melalui beberapa indikator, antara lain bayi dengan berat badan lahir
rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi wanita usia subur kurang energi
kronis (KEK).
1.
Bayi Dengan Berat Badan lahir
Rendah (BBLR)
Berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu
faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR
dibedakan dalam 2 katagori yaitu BBLR karena premature atau BBLR karena
intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan
tetapi berat badannya kurang. Di Negara berkembang banyak BBLR dengan IUGR
karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria dan menderita penyakit menular
seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat kehamilan. Sementara itu jumlah
BBLR di Kecamatan glagah sebanyak 15 (3,0 %) dari 561 bayi
lahir hidup dan tertangani seluruhnya 100 %. ( Tabel 26 )
2.
Gizi Balita
Status gizi balita merupakan salah
satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu
cara penilaian status gizi balita adalah pengukuran secara anthropometric yang
menggunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). Jumlah balita yang
ditimbang di Kecamatan glagah tahun 2013 adalah 2.658 balita sedang yang
BGM sebanyak 3 balita (0,1 %) dan yang mendapatkan perawatan seluruhnya 100 %.(Tabel 27 )
3.
Status Gizi Wanita Usia Subur
Kurang Energi Kronik (KEK)
Salah satu cara untuk mengetahui
status gizi Wanita Usia Subur (WUS) umur 15-49 tahun adalah dengan melakukan
pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Hasil pengukuran ini bisa digunakan
sebagai salah satu cara dalam mengidentifikasi seberapa besar seorang wanita
mempunyai risiko untuk melahirkan bayi BBLR. Indikator Kurang Energi Kronik
(KEK) menggunakan standar LILA <23,5cm. Dari hasil kegiatan tahun 2013 diperoleh angka sebesar 121 bumil KEK, dan yang ditangani sebanyak 99 (81,7 %). ( Tabel 31 )
4.
Gangguan Akibat Kekurangan
Yodium
Salah satu
masalah gizi yang perlu mendapat perhatian adalah gangguan akibat kekurangan
yodium (GAKY). GAKY dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik dan
keterbelakangan mental. Gangguan pertumbuhan fisik meliputi pembesaran kelanjar
tiroid (gondok), bisu, tuli, kretin (kredil), gangguan motorik,bisu, tuli dan
mata juling. Pemberian kapsul yodium dimaksudkan untuk mencegah lahirnya bayi
kretin, karena itu sasaran pemberian kapsul yodium adalah wanita usia subur
(WUS) termasuk ibu hamil dan ibu nifas. Angka prevalensi gondok atau total
goiter rate dihitung berdasarkan seluruh stadium pembesaran kelenjar, baik yang
teraba maupun yang terlihat. GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat,
karena secara umum prevalensinya diatas 5,00 %.
Jumlah WUS
di Kec. Glagah sebanyak 606 orang dengan WUS yang
mendapatkan kapsul yodium sebanyak 0 (0,00 %). Pada tahun 2012 jumlah desa/kelurahan
sebanyak 29, sedang jumlah desa / kelurahan endemis sebanyak 0 ( 0 %). ( Tabel 30 )
GAMBARAN UMUM KECAMATAN GLAGAH
A. Keadaan
Penduduk
Sesuai dengan
hasil Proyeksi Penduduk Propinsi Jawa Timur per Kabupaten / Kota 2010 – 2013 pada tahun 2013
jumlah penduduk Kecamatan Glagah Lamongan tercatat sebesar 35.657
jiwa, dengan tingkat kepadatan 7 jiwa per km2. Desa yang memiliki
kepadatan penduduk tertinggi adalah Desa Margoanyar yaitu sebesar 10,43 jiwa
per km2 dan Desa dengan
kepadatan penduduk terendah Desa Meluntur yaitu 3,10 jiwa per km2.
Komposisi
penduduk Kecamatan Glagah menurut kelompok umur, menunjukkan bahwa penduduk
yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 23 %, yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 69 %, dan yang
berusia tua (> 65 tahun) sebesar 8 %.
Jumlah penduduk laki-laki relatif seimbang dibandingkan penduduk perempuan,
yaitu masing-masing sebesar 17.286 jiwa penduduk laki-laki dan 18.371 jiwa penduduk perempuan.,
Komposisi penduduk Kecamatan Glagah dirinci menurut kelompok umur dan jenis
kelamin, Gambaran komposisi penduduk secara lebih rinci dapat
dilihat dari gambar berikut (tabel 3 )
Gambar 2.1
PIRAMIDA PENDUDUK PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013
|
|
|||||
![]() |
||||||
B.
Keadaan Ekonom
C.
Keadaan Pendidikan
Kemampuan bacatulis penduduk tercermin dari Angka Melek Huruf, yaitu
persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf
latin atau huruf lainnya. Persentase penduduk yang dapat membaca huruf latin
pada tahun 2013 sebesar 64.83 %.
Persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah
bersekolah sebesar 5 %. Sedangkan yang masih bersekolah ( SD/MI, SLTP/MTs,
SMU/SMK/MA ) sebesar 59, %, terdiri atas 22 % bersekolah di SD/MI, sebesar 16 %
di SLTP/MTs, sebesar 13 % di SMU/SMK, dan
untuk Akademi/Universitas sebesar 2 %. Selebihnya, sebesar 36 % sudah tidak
bersekolah lagi (lihat tabel
(lihat tabel (lihat tabel 5)
D. Keadaan Lingkungan
- Rumah Sehat
Rumah
sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah
yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah,
sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumahnya baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah
tidak terbuat dari tanah.
Dari kompilasi data yang dikumpulkan melalui Profil puskesmas glagah,
prosentase rumah sehat sebesar 54,20 % dari 8.347 rumah yang diperiksa. Atau rumah sehat sebesar 54,20 % dari seluruh rumah yang ada 4.093. ( Tabel 62).
Gambar : 2.2 RUMAH
SEHAT DI PUSKESMAS GLAGAH
TAHUN 2013

- Tempat-Tempat Umum dan Pengolahan
Makanan (TUPM) Sehat
Tempat-Tempat Umum ( TTU ) dan Tempat Umum Pengelolaan Makanan (TPUM)
merupakan suatu sarana yang dikunjungi banyak orang, dan berpotensi menjadi
tempat penyebaran penyakit.TUPM meliputi hotel, restoran, pasar dan lain-lain.
Sedangkan TUPM sehat adalah tempat umum dan tempat pengelolaan makanan dan
minuman yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu memiliki sarana air bersih,
tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi yang baik,
luas lantai ( luas ruangan ) yang sesuai dengan banyaknya pengunjung dan
memiliki pencahayaan ruang yang memadai.
Data yang diperoleh dari rekapitulasi laporan bulanan Pemegang Program meunjukkan
bahwa jumlah TUPM yang ada sebanyak 106 buah, yang
diperiksa 70 ( 66,03 % ). Dari TTU,
yang diperiksa yang masuk katagori TTU sehat sebanyak 29
buah ( 27,5 % ) (
Tabel 67 )
Gambar
: 2.3 TUPM YANG
DIPERIKSA DAN YANG MEMENUHI SYARAT KESEHATAN
DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013
- Akses Terhadap Air Minum
Sumber
air minum yang digunakan rumah tangga dibedakan menurut air kemasan, ledeng,
pompa sumur terlindung, mata air tidak terlindung, air sungai, air hujan dan
lainnya. Dari jumlah keluarga yang ada sebanyak 8.718 yang diperiksa
sebanyak 7109 keluarga, sedangkan yang dapat mengakses air bersih sebanyak 5.241 keluarga,
dengan rincaian berturut-turut yang terbanyak menggunakan Ledeng = 531
(10 %), SGL
= 973
(19
%) SPT = 1.479 (28 %), PAH = 2.258 (43 %) (
Tabel 64
).
Gambar
: 2.4 KELUARGA YANG MEMILIKI AKSES AIR
BERSIH DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

- Sarana Pembuangan Air Besar Pada
Rumah Tangga
Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh keluarga meliputi
persediaan air bersih ( PAB ), jamban, tempat sampah dan pengelolaan air
limbah. Dari 8.718 KK yang ada, tidak semuanya bisa diperiksa karena
keterbatasan sumber daya yang ada. Selain itu, jumlah KK yang diperiksa berbeda
untuk setiap jenis pemeriksaan : PAB, jamban, tempat sampah atau PAL.
Semestinya, pemeriksaan dilakukan satu kali untuk semua jenis sarana sanitasi
dasar.
Untuk PAB, jumlah KK yang diperiksa sebesar 7.109 (81 % )
dan yang memiliki PAB sebanyak 5.241 KK (73,7 %).
Untuk jamban, jumlah KK diperiksa sebanyak 8.648 dan yang memiliki sebanyak 6.766 ( 78,2 %
). Untuk tempat sampah, jumlah KK yang diperiksa sebanyak 8.648 dan yang memiliki sebanyak 4.466 ( 51,6 % ), (
Tabel 66 ).
E.
KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT
Untuk menggambarkan keadaan
perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat,
disajikan dalam beberapa indikator yaitu persentase penduduk yang mempunyai
keluhan kesehatan menurut cara pengobatan, persentase penduduk yang berobat
jalan menurut tempat berobat, persentase pemberian ASI Eksklusif.
1.
Penduduk Yang Memanfaatkan Sarana
Kesehatan
Penduduk yang memanfaatkan sarana kesehatan
dengan rawat jalan di sarana kesehatan ( puskesmas, pustu dan polindes ) sebesar 58.648 jiwa dan
yang rawat inap sebesar 813 jiwa, dari
penduduk di kecamatan glagah. Kunjungan di puskesmas dengan rawat jalan sebesar
(164 %). Sedangkan rawat inap sebesar( 2.3 % ), ( Tabel 58 )
Gambar : 2.5 PENDUDUK YANG
MEMANFAATKAN SARANA KESEHATAN DENGAN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

2.
Rumah Tangga Sehat
Sedangkan
indikator komposit rumah tangga sehat terdiri dari 10 indikator yaitu
pertolongan persalinan oleh nakes, balita diberi ASI eksklusif, mempunyai
jaminan pemeliharaan kesehatan, tidak merokok, melakukan akitfitas setiap hari, makan sayur dan buah setiap
hari, tersedianya akses terhadap air bersih, tersedianya jamban, kesesuaian
luas lantai dengan jumlah penghuni dan lantai rumah bukan dari tanah.
Dari tabel SPM
menunjukkan bahwa terdapat rumah tangga sehat sebanyak 4.093 ( 64.5 % ) dari yang diperiksa.6.347 ( 75 % ). ( Tabel 62 ).
Gambar : 2.6 RUMAH TANGGA SEHAT DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

3.
ASI Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) diyakini dan
bahkan terbukti memberi manfaat bagi bayi baik dari sisi / aspek gizi, aspek
imunologik, aspek psikologik ( interakasi dan kasih saying antara anak dan ibu
), aspek kecerdasan, aspek neurologik (aktifitas menyerap ASI bermanfaat pada
koordinasi syaraf bayi ), aspek ekonomik serta aspek penundaan kehamilan. Selain
aspek-aspek tersebut, dengan ASI juga dapat melindungi bayi dari sindrom
kematian bayi secara mendadak.
Jumlah bayi yang diberi ASI
eksklusif sebesar 433 bayi ( 38,6 % ) dari seluruh jumlah bayi sebesar 1122 bayi. ( Tabel 41 )
4.
Posyandu
Dalam rangka meningkatkan
cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat bebagai upaya dilakukan dengan
memanfatkan potensi dan sumberdaya yang ada di masyarakat. Posyandu merupakan
salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Manusia ( UKBM ) yang paling
dikenal oleh masyarakat, posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas.
Posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata. Posyandu purnama yaitu posyandu dengan
cakupan 5 program atau lebih dengan melaksanakan kegiatan 8 kali atau lebih
pertahun. Untuk
target posyandu purnama dan mandiri (PURI) nasional adalah 30 %, sementara itu
rata-rata pencapaian Puskesmas Glagah 74,60 %., prosentase posyandu pratama di
Puskesmas Glagah 0 %, posyandu madya 25,40 %, posyandu purnama 68,25 % dan posyandu mandiri 6,35 %.( Tabel 72 )
Gambar
2.6 : PROPORSI POSYANDU MENURUT STRATA DI KECAMATAN GLAGAH TAHUN 2013

5. Pembiayaan Kesehatan Oleh Masyarakat
Dalam
rangka meningkatkan kepesertaan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan, sejak
lama dikembangkan berbagai cara untuk memberikan jaminan kesehatan bagi
masyarakat. Pada saat ini berkembang berbagai cara pembiayaan kesehatan pra
upaya, yaitu dana sehat, asuransi kesehatan, asuransi tenaga kerja
(Astek/Jamsostek, JPKM dan asuransi kesehatan lainnya, serta kartu sehat untuk
penduduk miskin). Di Kecamatan glagah cakupan kepesertaan adalah 66,1 % .( Tabel 55)
Gambar
2.7 : PROPORSI ASURANSI KESEHATAN DI PUSKESMAS GLAGA TAHUN
2013
SITUASI UPAYA KESEHATAN
Dalam rangka mencapai tujuan
pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derjat kesehatan masyarakat, telah
dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan. Berikut ini diruaikan gambaran situasi
upaya kesehatan khususnya pada tahun 2013
A.
PELAYANAN KESEHATAN DASAR
Upaya pelayanan kesehatan dasar
merupakan langkah awal yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan
pada masyarakat. Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan
tepat, diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat sudah dapat
diatasi.
Pelayanan kesehatan dasar di puskesmas Glagah Kabupaten
Lamongan pada tahun 2013 dilaksanakan secara gratis, pelayanan kesehatan
adalah sebagai berikut :
1. Pelayanan
Kesehatan Ibu dan Bayi
Seorang ibu mempunyai peran yang
sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Ganguan kesehatan
yang dialami ibu yang sedang hamil bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam
kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya.
a.
Pelayanan Antenatal ( K4 )
Pelayanan antenatal merupakan
pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan professional ( dokter spesialis
kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil
selama masa kehamilannya, yang mengikuti program pedoman pelayanan antenatal
yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil
pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K4.
Cakupan K1 atau juga disebut akses
pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke faslitas
pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 adalah
gambaran besaran ibu hamil yang telah
mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit
empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali
pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga. Angka ini dapat
dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil.
Gambaran persentase cakupan pelayanan
K4 di Kec. glagah pada tahun 2013 sebesar 557 ( 91,9 %) dari seluruh ibu hamil
sebanyak 606 orang. ( Tabel 28 )
b.
Pertolongan Persalinan Oleh
Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan
Komplikasi dan kematian ibu
maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar
persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (professional).
Hasil pengumpulan data / indikator
kinerja SPM bidang kesehatan di Kec. glagah pada tahun 2013 menunjukkan bahwa prosentase cakupan persalinan dengan pertolongan
oleh tenaga kesehatan sebesar 543 ( 95,6 % ). Dari jumlah ibu bersalin sebanyak 606. Dari 29 desa yang ada. ( Tabel 28 )
c.
Ibu Hamil Resiko Tinggi yang Dirujuk
Dalam memberikan pelayanan kesehatan khususnya oleh bidan di
desa dan puskesmas, beberapa ibu hamil di antaranya tergolong dalam kasus
resiko tinggi (risti), maka kasus tersebut memerlukan pelayanan kesehatan
rujukan ke unit kesehatan yang memadai.
Jumlah ibu hamil
risti di kecamatan glagah tahun 2013 sebesar 121, dan risti di tangani 121 (100 %). (Tabel 31)
Gambar : 4.1 JUMLAH IBU HAMIL,
K4, PERSALINAN NAKES, IBU
HAMIL RISTI DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

d.
Kunjungan Neonatus
Bayi hingga usia kurang dari satu
bulan merupakan golongan umur yang paling rentan atau memiliki resiko gangguan
kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko
tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal 2 kali,
satu kali pada 0-7 hari dan satu kali pada umur 8-28 hari. Dalam melaksanakan
pelayanan neonatus, petugas kesehatan disamping melakukan pemeriksaan kesehatan
bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu.
Bila dilihat menurut puskesmas di
Kecamatan Glagah pada tahun 2013, dengan cakupan kunjungan
neonatus tertinggi adalah desa mendogo dengan cakupan KN.1 mencapai 30 sedangkan cakupan kunjungan
neonatus terendah adalah desa bangkok dengan cakupan KN1 hanya mencapai 7. Adapun cakupan KN1 di Kec. glagah pada Tahun 2013 sebesar 561 yaitu 100, % dari jumlah
neonatus yang ada yaitu 561. ( Tabel 36 )
e.
Kunjungan Bayi
Hasil
pengumpulan data / indikator kinerja SPM bidang kesehatan menunjukkan cakupan
kunjungan bayi di Kec glagah pada tahun 2013 mencapai 561 (100. %). Namun data ini belum mencakup
semua kunjungan bayi yang tercatat di sarana pelayanan kesehatan swasta ( tabel 37 )
Gambar : 4.2 JUMLAH BAYI, KUNJUNGAN BAYI DAN KN1 DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

2. Pelayanan
Kesehatan Anak Prasekolah, Usia Sekolah dan Remaja
Pelayanan kesehatan pada kelompok
anak pra sekolah, usia sekolah dan remaja dilakukan dengan pelaksanaan
pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak pra
sekolah, pemeriksaan anak sekolah dasar /sederajat, serta pelayanan kesehatan
pada remaja, baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta
tenaga terlatih lainnya seperti kader kesehatan, guru UKS dan dokter kecil.
Dari hasil
laporan yang terkumpul menunjukkan bahwa cakupan deteksi tumbuh kembang anak
balita dan pra sekolah sebesar 2.141. Dalam
pelayanan kesehatan kelompok balita dan anak pra sekolah selama tahun 2013, puskesmas dengan cakupan tertinggi
adalah desa margoanyar
dan Dukuh Tunggal ( 93 Balita ), cakupan terendah desa Meluntur (21),
(Tabel 43)
Untuk pelayanan
kesehatan kelompok anak Sekolah Dasar/MI, dengan jumlah murid 575, cakupan tertinggi di capai desa Glagah sebanyak
57 anak. sedang
cakupan terendah dicapai desaduduk lor sebanyak 4 anak ( tabel 47 )
Sedangkan pelayanan kesehatan untuk kelompok usia Usia lanjut, cakupan tertinggi dicapai desa
glagah 223 dan cakupan terendah dicapai desa
meluntur 52. ( Tabel 48 )
Gambar : 4.3 JUMLAH ANAK BALITA & PRA SEKOLAH, SD/MI,
USILA DI KECAMATAN GLAGAH TAHUN
2013

3. Pelayanan
Keluarga Berencana
Jumlah pasangan usia subur (PUS)
pada tahun 2013 sebanyak 6062,
sedangkan yang menjadi peserta KB aktif sebesar 4460 ( 73,06 %), dengan cakupan tertinggi Desa Karangturi yaitu sebesar 225 (100%) dan cakupan terendah Desa Konang yaitu
40 (37%) (Tabel 35 ).
GAMBAR 4.4 JENIS ALAT KONTRASEPSI YANG DIGUNAKAN TAHUN 2013
4. Pelayanan
Imunisasi
Pencapaian universal child
immunization pada dasarnya merupakan suatu gambaran terhadap cakupan sasaran
bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Bila UCI dikaitkan dengan
batasan wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan
besarnya tingkat kekebalan masyarakat terhadap penularan PD3I.
Pada tahun 2013 dilaporkan puskesmas Glagah yang telah mencapai desa/keluaran UCI sebesar 29
( 100 %) dari 29 desa / kelurahan yang ada.
Dari 29 Desa yang ada di Kec Glagah, telah mencapai UCI 100 % (Tabel 38)
Pelayanan
imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG, DPT ( 3 kali ), Polio ( 4 kali ),
Hepatitis B ( 3 kali ) dan Campak ( 1 kali ), yang dilakukan melalui pelayanan
rutin di posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainya. Cakupan imunisasi BCG
sebesar 550 ( 98%), POLIO3 sebesar 583 (103%), DPT 1 dan HB 1 sebesar 613 (119,4 %), DPT3 dan HB 3
sebesar 570 ( 101,06 % ), Campak sebesar 606 ( 108, % ) ( Tabel 39 )
Gambar : 4.5 IMUNISASI BAYI DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

Untuk cakupan
imunisasi TT wanita usia subur pada
tahun 2013, TT1 sebesar 0 ( 0 % ), TT2
sebesar 0 ( 0 % ), TT3 sebesar 0 ( 0 % ), TT4 sebesar 6 ( 1. % ) dan TT5 sebesar 6 ( 1. % ) (Tabel 29)
Upaya meningkatkan kekebalan
pada masyarakat juga dilakukan pada kelompok-kelompok sasaran khusus lainnya,
misalnya pemberian imunisasi DT dan TT pada anak sekolah melalui program Bulan
Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) atau pelaksanaan Crash Program imunisasi Campak pada anak Balita di lokasi
pengungsian atau Catch Up Campaign
imunisasi campak pada anak sekolah kelas 1 sampai VI SD.
Gambar : 4.6 IMUNISASI WANITA USIA SUBUR DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

5.
Pelayanan Kesehatan Usia
lanjut
Cakupan
pelayanan kesehatan usia
lanjut pada tahun 2013 di Kec. glagah sebesar 15.526 ( 49.38 % ) dari seluruh jumlah usila
yang dilaporkan sebanyak 4028, (Tabel 48)
B. PEMANFAATAN OBAT GENERIK
Hasil pengumpulan data pelayanan penggunaan obat generik, penulisan resep
obat generik di Puskesmas menunjukkan bahwa data yang berhasil dikumpulkan,
jumlah resep yang dilaporkan sebesar 3756. Dan penulisan resep obat generik
dilaporkan sebesar 3500 ( 93 %)
Rendahnya cakupan resep obat generik ini bisa jadi disebabkan karena
beberapa hal seperti masih terbatasnya item obat generik yang tersedia, masih
kuatnya persepsi bahwa obat paten lebih ampuh dibanding obat generik.
C.
PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR
Upaya pemberantasan penyakit menular lebih
ditekankan pada pelaksanaan surveilans epidemiologi dengan upaya penemuan
penderita secara dini yang ditindaklanjuti dengan penanganan secara cepat
melalui pengobatan penderita. Di samping itu pelayanan lain yang diberikan
adalah upaya pencegahan dengan pemberian imunisasi, upaya pengurangan faktor
risiko melalui kegiatan untuk peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan
peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit menular yang
dilaksanakan melalui berbagai kegiatan.
1. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan
Kejadian Luar Biasa
Upaya
penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)
merupakan tindak lanjut dari penemuan dini kasus-kasus penyakit berpotensi
wabah yang terjadi pada masyarakat. Upaya penanggulangan yang dilakukan
dimaksudkan untuk mencegah penyebaran lebih luas dan mengurangi dampak negatif
yang dapat ditimbulkan.
Berdasarkan
hasil pengumpulan data/indikator kinerja SPM selama tahun 2013 jumlah desa/kelurahan yang melaporkan
terkena KLB dan yang mendapatkan penanganan kurang dari 24 jam adalah NIHIL
Sedangkan KLB di Puskesmas Glagah tidak
ada (Tabel 50)
Gambar : 4.8 JUMLAH PENDERITA KLB YANG TERJADI DI PUSKESMAS
TAHUN 2013

2. Pemberantasan Penyakit Polio
Upaya pencegahan dan pemberantasan
penyakit Polio telah dilakukan melalui gerakan imunisasi Polio. Upaya ini juga
ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap
kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis
(AFP) kelompok umur <15 tahun hingga dalam kurun waktu tertentu, untuk
mencari kemungkinan adanya virus Polio liar yang berkembang di masyarakat
dengan pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai. Berdasarkan kegiatan
surveilans AFP pada penduduk umur <15 tahun selama tahun 2013 Tidak ada penderita.
Sementara
itu, cakupan imunisasi Polio-3 pada bayi pada tahun 2013 sebesar 583. desa dengan cakupan tertinggi
adalah desa soko dan Jatirenggo 30, sedangkan yang terendah adalah desa Bangkok dan Meluntur 11. ( Tabel 40 )
3. Pemberantasan TB-Paru
Upaya
Pencegahan dan pemberantasan TB-Paru dilakukan dengan pendekatan DOTS (Directly Observe Treatment Shortcource)
atau pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat
(PMO). Kegiatan ini meliputi upaya penemuan penderita dengan pemeriksaan dahak
di sarana pelayanan kesehatan yang ditindaklanjuti dengan paket pengobatan.
Jumlah penderita
Tb paru pada tahun 2013 sebanyak 21 orang, sedangkan yang diobati banyak 21 dan yang sembuh sebanyak 20 oranag (95,24 %) (Tabel 12)
4. Pemberantasan Penyakit ISPA
Upaya dalam
rangka Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2 ISPA) lebih
difokuskan pada upaya penemuan secara dini dan tata laksana kasus yang cepat
dan tepat terhadap penderita Pneumonia balita yang ditemukan. Upaya ini
dikembangkan melalui suatu manajemen terpadu dalam penanganan balita sakit yang
datang ke unit pelayanan kesehatan atau lebih dikenal dengan Manajemen Terpadu
Balita Sakit (MTBS). Dengan pendekatan MTBS semua penderita ISPA langsung
ditangani di unit yang menemukan, namun bila kondisi balita sudah berada dalam
Pneumonia berat sedangkan peralatan tidak mencukupi maka penderita langsung
dirujuk ke fasilitas pelayanan yang lebih lengkap.
5. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS
Upaya pelayanan
kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS, disamping ditujukan
pada penanganan penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya pencegahan
melalui penemuan penderita secara dini yang dilanjutkan dengan kegiatan
konseling.
Upaya penemuan
penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap darah donor, pemantauan
pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Wanita
Penjaja Seks (WPS), penyalahguna obat dengan suntikan (IDUs), penghuni Lapas
(Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan penelitian pada kelompok
berisiko rendah seperti ibu rumah tangga
dan sebagainya.
Walaupun jumlah
penderita AIDS secara kumulatif relatif kecil
(Case Rate 1,33 per 100.000
penduduk), namun dalam perjalanan penyakit dari HIV + menjadi AIDS dikenal istilah ”windows periods” yang tidak
diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga kelompok ini menjadi sangat
potensial dalam menularkan penyakit. Pada kelompok ini disamping dilakukan
pengobatan yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk menumbuhkan rasa
tanggung jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya penularan lebih
lanjut.
dari hasil
pemantauan dan pemeriksaan pada tahun 2013 dijumpai 1 penderita HIV/AIDS. ( Tabel 14 )
6. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD)
Upaya
pemberantasan DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat
berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3 M+), Juru
Pemantauan Jentik (Jumantik) untuk memantau Angka Bebas Jentik (ABJ), serta
pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga.
Pada tahun 2013 dari 29 desa di Puskesmas Glagah tidak ada kasus DBD/ tanpa ada penderita.( tabel 23 )
Upaya kesehatan
yang telah dilakukan dalam rangka penanggulangan DBD selama tahun 2013 tersebut antara lain adalah penemuan
penderita secara dini melalui sistem surveilans, penegakan diagnosa secara cepat
dengan didukung oleh pemeriksaan laboratorium dan penanganan penderita secara
tepat, serta gerakan pemantauan dan pengendalian vektor melalui gerakan 3
M.
7. Pemberantasan Penyakit Malaria
Penegakan diagnosa penderita secara cepat dan pengobatan yang tepat
merupakan salah satu upaya penting dalam rangka pemberantasan penyakit Malaria.
Di Kabupaten Lamongan pada tahun 2013 tidak ditemukan penderita
penyakit malaria.( Tabel 24 )
8. Pemberantasan Penyakit Kusta
Upaya pelayanan
terhadap penderita penyakit Kusta antara lain adalah melakukan penemuan
penderita melalui berbagai survei anak sekolah, survei kontak dan pemeriksaan intensif penderita yang datang ke
pelayanan kesehatan dengan keluhan atau kontak dengan penderita penyakit
Kusta.
Semua penderita
yang ditemukan langsung diberikan pengobatan paket MDT yang terdiri atas
Rifampicin, Lampren, dan DDS selama kurun waktu tertentu. Sedangkan untuk
penderita yang ditemukan sudah dalam kondisi parah akan dilakukan rehabilitasi
melalui institusi pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas pelayanan lebih
lengkap.
Pada tahun 2013 ditemukan penderita kusta tipe PB 0 orang dan tipe MB sebanyak 3, dan tipe RFT PB 0 orang dan RFT MB sebanyak 1 (100 %).(tabel 19 dan 20 )
9. Pemberantasan Penyakit Filaria
Upaya kesehatan
dalam rangka pemberantasan penyakit Filaria difokuskan pada kegiatan penemuan
penderita, pengobatan dan pengendalian vektor potensial di wilayah-wilayah
endemis. Di puskesmas
Kecamatan glagah tidak ada penyakit tersebut ( tabel 25 )
D.
PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR
Untuk
memperkecil resiko terjadinya penyakit kusta atau gangguan kesehatan sebagai
akibat dari lingkungan yang kurang sehat, dilakukan berbagai upaya peningkatan
kualitas lingkungan, antara lain dengan pembinaan kesehatan lingkungan pada
institusi yang dilakukan secara berkala. Upaya yang dilakukan mencakup
pemantauan dan pemberian rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas
sanitasi dasar.
Hasil kompilasi data menunjukan bahwa pada tahun 2013 dari
institusi yang dilaporkan 235, yang dibina kesehatan
lingkungannya sebanyak 140 (59,6%). Tabel 68
Dari jumlah institusi tersebut diatas terdistribusi pada sarana kesehatan
30 dan yang dibina 30 (100 %), sarana pendidikan 64 dan yang
dibina 64 (100 %), sarana ibadah 87 dan
yang dibina 0 (0 %) dan institusi perkantoran 38 dan
yang dibina 30 (78,9 %). ( tabel 68 )
1. Pembinaan Kesehatan
Lingkungan
Upaya pembinaan kesehatan
lingkungan diarahkan pada masyarakat dan institusi yang memiliki potensi
mengancam kesehatan masyarakat yang dilakukan secara berkala. Kegiatan
pembinaan dimaksud mencakup upaya pemantauan, penyuluhan dan pemberian
rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas sanitasi dasar (air bersih dan
jamban), pengelolaan sampah, sirkulasi udara, pencahayaan, dan lain-lain.
Dari KK yang
diperiksa pada tahun 2013 sebanyak 8718 terdapat KK yang mempunyai persediaan
air bersih 5241 ( 73,7 %) ( Tabel 64 dan 65 )
Gambar
: 4.9 JUMLAH PEMAKAI SARANA AIR
BERSIH DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013

Dan terdapat jamban yang memenuhi
syarat 5173 ( 76,5 %), tempat sampah yang memenuhi
syarat 2685 (60,1 %) dan terdapat pengolahan air limbah keluarga yang memenuhi syarat 1931 (35,7% ) ( table 66 ) .
Gambar : 4.10 SYARAT DI PUSKESMAS GLAGAH TAHUN 2013 KELUARGA
YANG MEMPUNYAI JAMBAN, TEMPAT SAMPAH DAN
AIR LIMBAH MEMENUHI SYARAT KESEHATAN

2. Surveilans Vektor
Upaya
surveilans vektor dilakukan untuk mengendalikan vektor potensial dalam
menularkan penyakit antara lain nyamuk. Kegiatan yang dilakukan meliputi survei
vektor untuk mengetahui jenis potensial, bionomik serta strategi
pengendaliannya.
Pada tahun 2013 jumlah
rumah/bangunan yang diperiksa sebanyak 2750 (41.99%) dan yang dinyatakan bebas jentik sebanyak 2636 (95,85 %). ( Tabel 63 )
3. Pengawasan
Tempat-tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan
Pengawasan terhadap Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan Makanan
(TUPM) dilakukan untuk meminimalkan faktor risiko sumber penularan bagi
masyarakat yang memanfaatkan TTU dan TUPM.
Bentuk kegiatan yang dilakukan antara lain meliputi pengawasan kualitas
lingkungan TTU dan TUPM secara berkala, bimbingan, penyuluhan dan saran
perbaikan dalam pengelolaan lingkungan yang sehat, hingga pemberian rekomendasi untuk penerbitan izin usaha.
Menurut data
Profil Kesehatan tahun 2013, dari 106 TUPM yang ada dan yang diperiksa sebanyak 70 TUPM dan memenuhi syarat kesehatan 27 TUPM 27 ( 38,57% ) (tabel 67)
Gambar : 4.11
JUMLAH TUPM, TTU DI PUSKESMAS
GLAGAH TAHUN 2013

E.
PERBAIKAN
GIZI MASYARAKAT
Upaya
perbaikan gizi masyarakat pada hakekatnya dimaksudkan untuk menangani
permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Beberapa permasalahan gizi sering
dijumpai pada kelompok masyarakat adalah kekurangan kalori protein, kekurangan
vitamin A, gangguan akibat kekurangan yodium dan anemia gizi besi.
1. Pemantauan Pertumbuhan Balita
Upaya
pemantauan terhadap pertumbuhan balita dilakukan melalui kegiatan penimbangan
di posyandu secara rutin setiap bulan. Hasil dari pengumpulan data di puskesmas, jumlah balita yang ada sebanyak 3.041 balita yang ditimbang
sebanyak 2.658, dengan hasil penimbangan jumlah balita dengan berat badan naik sebanyak
1.848
(69,5 %). Sementara itu balita dengan bawah garis merah
(BGM) sebesar 68 (2.6 %).(Tabel 44)
2. Pemberian kapsul Vitamin A
Cakupan pemberian kapsul vitamin
A 2 kali pada balita pada tahun 2013
hasil kompilasi pada seluruh DESA sebanyak 2.607 (85,7 %)
anak dari jumlah anak balita sebanyak 3.041 anak. (Tabel 32 )
3. Pemberian Tablet Besi
Pada
tahun 2013
jumlah ibu hamil yang ada sebesar 606 orang dan yang mendapatkan pemberian tablet besi
(Fe1) 568
(93,73 %) dan Fe3 sebesar 510 ( 84,16 % ) bumil. ( Tabel 30 )
Gambar : 4.12 JUMLAH BAYI, BAYI BGM, JUMLAH BALITA, BALITA
BGM TABEL 26 DAN 44

F. PELAYANAN
KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
Upaya pelayanan
kefarmasian dan alat kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
upaya pelayanan kesehatan secara paripurna. Upaya tersebut dimaksudkan untuk
(1) menjamin ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan obat generik dan obat
esensial yang bermutu bagi masyarakat, (2) mempromosikan penggunaan obat yang
rasional dan obat generik, (3) meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di farmasi
komunitas dan farmasi klinik serta pelayanan kesehatan dasar, serta (4)
melindungi masyarakat dari penggunaan alat kesehatan yang tidak memenuhi
persyaratan, mutu, dan keamanan.
1. Peningkatan Penggunaan Obat Rasional
Upaya peningkatan penggunaan obat rasional, diarahkan kepada peningkatan
cakupan dan kualitas pelayanan pembinaan penggunaan obat yang rasional melalui
pelaksanaan advokasi secara lebih intensif agar terwujud dukungan masyarakat
yang kondusif serta terbangunnya kemitraan dengan unit pelayanan kesehatan
formal. Sampai dengan akhir tahun 2013, penggunaan
obat rasional mencapai 82,12 %. Angka tersebut belum menunjukkan target yang
hendak dicapai yang idealnya penggunaan obat yang rasional mencapai 100%.
Berkaitan dengan hal tersebut perlu terus diupayakan meningkatan obat esensial
nasional di setiap fasilitas kesehatan masyarakat dan melindungi masyarakat
dari risiko pengobatan irasional.
2. Penerapan
Penggunaan Obat Esensial Generik
Kegiatan ini
dimaksudkan agar terjaminnya ketersediaan, keterjangkauan, dan pemerataan obat
dalam pelayanan kesehatan, yang pelaksanaannya mencakup pengadaan buffer stock obat generik esensial,
revitalisasi pemasyarakatan konsepsi obat esensial dan penerapan penggunaan
obat esensial generik pada fasilitas pelayanan pemerintah. Pada tahun 2013 ketersediaan obat esensial sudah
mencapai 86,47 %.
Langganan:
Komentar (Atom)